detikNews
Rabu 15 Mei 2019, 14:13 WIB

Sadis! Gegara Gunting Hilang, Pembantu di Bali Disiram Air Mendidih

Aditya Mardiastuti - detikNews
Sadis! Gegara Gunting Hilang, Pembantu di Bali Disiram Air Mendidih Eka, seorang pembantu rumah tangga melapor ke Polda Bali atas penganiayaan yang dialaminya (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)
Denpasar - Seorang pembantu rumah tangga (PRT) Eka Febriyanti (21) di Gianyar, Bali, disiram air mendidih oleh majikannya berinisial DMW. Sebabnya, hanya karena gunting hilang dan tidak ketemu.

"Kejadian gunting hilang. Setelah dikasih kesempatan mencari dan sanksinya itu disiram air panas, saya sudah berusaha sekuat tenaga ternyata gunting tidak ketemu karena tidak ketemu harus nerima sanksi," kata Eka Febriyanti ketika ditemui di Mapolda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Rabu (15/5/2019).

Eka mengatakan karena tidak ketemu, dia mendapat hukuman. Dia mengaku disiram dua panci air mendidih lalu kabur. Gunting yang hilang tersebut berharga Rp 88 ribu.


"Karena saya ketakutan dua ember panci pagi jadi saya melarikan diri. Tapi saya sudah berupaya mencari gunting itu. Gunting itu dipakai gunting besi, kawat besi biasa," ujarnya kelu.

Dengan suara lirih, Eka mengaku sudah mencari hingga ke gudang tapi gunting itu tidak ditemukan. Dia pun merasa bertanggung jawab karena diberi tugas.

"Kan harus ketemu guntingnya sedangkan saya sudah berusaha semampu saya. Kan berani berbuat berani bertanggung jawab istilahnya gitu. Kan saya yang disuruh, nggak ketemu ya disiram. Mau gimana lagi masa saya menolak nggak mau," ujar wanita asal Jember itu.

Eka mengaku adik tirinya yang bekerja sebagai baby sitter dan satpam ikut menyiramkan air mendidih itu ke tubuhnya. Dia pun mengalami luka melepuh.


"Iya (disiram air mendidih), sama adik, bos saya sama satpam. Kejadian pertama, disiram pakai panci besar tuh. Dua kali nganu air penuh dari kepala ditetesin, kepala, badan belakang, ini tangan, paha, semua," tutur Eka sambil menitikkan air mata.

Peristiwa nahas itu terjadi Selasa (7/5) pagi. Eka juga sempat kabur ke rumah temannya di Nusa Penida dengan bantuan orang-orang yang dia temui di jalan. Dalam pelariannya itu, Eka tak mendapatkan perawatan apapun.

Kini, Eka bersama kuasa hukumnya melaporkan penganiayaan itu ke kantor polisi. Eka juga sempat didampingi unit PPA Ditreskrimum Polda Bali untuk visum di RS Trijata Polda Bali.

"Dia sudah bekerja 7 bulan dan sampai sekarang tidak digaji dan direkomendasikan kerja di sana sama adiknya itu. Ketiga-tiganya kami laporkan sang majikan, adik tirinya Santi, dan satpam Eri," kata pengacara Eka, Supriyono.


Supriyono menyebut DMW merupakan ibu dari anak balita kembar. Diduga suami DMW merupakan salah satu caleg di Gianyar.

"Kalau caleg terpilih itu suaminya. Kalau berdasarkan keterangan korban tidak setiap hari pulang di rumah itu, berarti diduga istri kedua atau seperti apa. Korban tidak paham apakah dia DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten, caleg PDIP," cetusnya.

Surpiyoni mengatakan saat ini kondisi Eka masih sangat terpukul. Dia berniat melaporkan DMW dan para pelaku penyiram air panas lainnya dengan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

"Kakay menurut saya ada lex specialis derogat lex generalis kita sepakat dengan undang-undang KDRT, meski pembantu tapi dia masih dalam satu rumah. Mungkin bisa dijunctokan penyidik 351 (2) KUHP yaitu penganiayaan biasa tapi menyebabkan luka berat dan 353 (2) KUHP perencanaan tapi menyebabkan luka berat, 354 KUHP bisa juga," paparnya.
(ams/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed