Bayi Tewas di Daycare, Pemilik-Perawat Princess Childcare Bali Ditangkap

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 13 Mei 2019 15:14 WIB
Foto: Polisi jumpa pers soal bayi tewas di tempat penitipan anak (Dita-detikcom)
Denpasar - Pemilik dan perawat di Tempat Penitipan Anak (TPA) Princess House Childcare di Denpasar, Bali ditangkap polisi. Keduanya menjadi tersangka terkait kasus kematian seorang bayi Elora yang berusia 3 bulan.

"Satreskrim melakukan penyidikan tentang tindak pidana kelalaian mengakibatkan matinya anak di Princess Childcare pada Kamis (9/5), sekitar pukul 07.30 Wita pelapor datang ke TPA untuk dititipkan, karena orang tuanya bekerja. Kemudian dititipkan dari pagi dan dirawat di TPA. Namun, saat diambil anak tersebut ada di RS Bross dan diketahui meninggal dunia," kata Kapolresta Denpasar Kombes Ruddi Setiawan saat jumpa pers di Mapolresta Denpasar, Jl Gunung Sanghyang, Denpasar, Bali, Senin (13/5/2019).



Kedua tersangka yang ditangkap yaitu Listiana alias Tina (39) sebagai perawat dan Ni Made Sudiana Putri (39) sebagai pemilik TPA Princess Childcare tersebut. Ruddi mengatakan dugaan awal meninggalnya bayi Elora disebabkan karena lemas.

"Bayi tadi setelah diterima akan diberikan susu, kemudian ditinggal satu menit, kemudian balik lagi perawatnya. Kemudian (bayi itu) digendong lalu ditengkurapkan dari hasil rekaman CCTV sekitar 30 menit. Setelah balik sang bayi sudah dalam kondisi lemas lalu dibawa ke RS Bross dan meninggal di rumah sakit, kondisinya lemas," ujar Ruddi.

"Sudah autopsi tinggal menunggu hasilnya, namun secara lisan (disampaikan) lemas," jelasnya.

Tak hanya itu, rupanya TPA Princess Childcare juga tak mengantongi izin resmi sebagai yayasan penampungan anak. Kemudian diketahui TPA tersebut juga tak memiliki pegawai yang bersertifikasi khusus anak.



"TPA sudah beroperasi tiga tahun dan hanya mengantongi izin yayasan saja. Namun, dari dinas kesehatan dan dinas pendidikan tidak ada izinnya. TPA ini merekrut stafnya hanya lulusan SMP dan SMA dan tidak memiliki keahlian khusus untuk perawatan anak, khususnya bayi. Di dalam brosur ini dijelaskan bahwa makan dan minum ditangani ahli gizi, tapi hasil interogasi hanya melihat dari google, bukan dokter ahli gizi beneran," paparnya.

Padahal TPA tersebut juga memiliki cabang di Jl Nusakambangan, Denpasar serta menampung sekitar 40-50 bayi dan anak-anak dengan total pengasuh berjumlah 9 orang. Saat ini kedua TPA tersebut sudah dikelilingi garis batas polisi.

"Sekarang sudah kita police line. Sudah tutup semua," tegas Ruddi.

Akibat perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan pasal berlapis tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun.

"Tersangka ini ada sebagai pemilik dan perawatnya, kita kenakan pasal 76 b jo 77 b UU RI no 35 tahun 2015 tentang perlindungan anak menyebabkan matinya anak. Tersangka dua, kita kenakan pasal yang sama karena lalainya," ucap Ruddi. (ams/rvk)