Round-Up

Ramai-ramai Sepakat Tak Politisir Isu Petugas KPPS Meninggal

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 12 Mei 2019 03:59 WIB
Foto: Ilustrasi Pemilu Serentak. (Andhika Prasetia/detikcom).
Jakarta - Fenomena banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia terus menjadi pembicaraan. Kini semua pihak ramai-ramai setuju agar isu kematian petugas KPPS tidak dipolitisasi.

"Jangan mempolitisir petugas KPPS yang gugur. Hormati perjuangan mereka yang bekerja dengan semangat sukarela dan telah ikut aktif mensukseskan Pemilu 2019," ujar komisioner KPU Viryan Aziz saat dihubungi detikcom, Jumat (10/5/2019).

Hal tersebut disampaikan Viryan saat menanggapi hoax petugas KPPS bernama Sita Fitriati meninggal dunia karena diracun. Ia juga mendukung langkah keluarga Sita yang melaporkan penyebar hoax itu ke polisi.


"Akun tweet yang posting berita tersebut harus bertanggung jawab atas posting-annya. Bila yang di-posting hoax, kami minta diberi sanksi pidana yang berat karena menyebarkan berita hoax di tengah kedukaan yang ada," imbuhnya.

Imbauan agar isu petugas KPPS meninggal dunia tak dipolitisir juga datang dari Bawaslu. Komisioner Bawaslu, Mochammad Afifuddin mengutuk adanya berita bohong soal petugas KPPS meninggal karena diracun.

Afif mengatakan penyebab petugas KPPS meninggal berbeda-beda, tetapi salah satunya karena kelelahan. Para petugas KPPS menurutnya juga menghadapi tantangan tekanan publik.

"Penyebab memang bervariasi, salah satu faktor yang kami himpun karena kelelahan dan faktor kerja yang beruntun dari TPS. Apalagi harus hadapi situasi di mana mereka menghadapi tekanan publik. Pengawasan sangat ketat secara psikologis juga berdampak," kata Afif di Gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Sabtu (11/5/2019).


Selain itu, penyebab lainnya, jika daya tahan tubuh lemah, petugas KPPS rentan terkena penyakit. Ia memastikan tidak ada petugas yang meninggal karena diracun. Ia menyayangkan beredarnya hoax petugas KPPS meninggal karena diracun. Afif meminta agar kejadian tersebut tidak dipolitisasi.

"Kita sangat sedih kalau ada pihak memberitakan bohong atau fitnah, dipolitisasi seakan-akan korban meninggal akibat itu. Padahal faktornya sudah jelas karena kelelahan dan lain-lain," sebutnya.