Minta Autopsi Jenazah KPPS Meninggal, BPN: Pemilu Tahun Ini Mencurigakan

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Minggu, 05 Mei 2019 18:39 WIB
Foto: Anggota BPN Mustofa Nahrawardaya dan Said Didu di diskusi publik
Jakarta - Anggota BPN Mustofa Nahrawardaya heran wacananya agar anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia diautopsi dinilai tidak manusiawi. Menurtnya jika tidak diautopsi maka kematian anggota KPPS akan semakin misterius.

"Autopsi itu kan biasa, tapi ditanggapi dengan serius bahwa ini tidak manusiawi. Justru membiarkan misteriusnya kematian banyak orang dan sakit, harus diungkap agar tidak terulang di periode yang akan datang," ujar Mustofa di Ambhara Hotel, Jalan Iskandarsyah Raya, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (5/5/2019).

Mustofa pun kembali mengungkapkan keheranannya akan banyaknya petugas KPSS yang meninggal dunia dan jatuh sakit pada pemilu kali ini. Atas dasar itu dia mengungkapkan agar jenazah anggota KPPS dan petugas pemilu lainnya diautopsi.

"Per 1 Mei, 380 orang petugas KPPS meninggal. Bawaslu 79, polisi 22. Belum yang sakit, 3192 petugas KPPS, Bawaslu itu 1395, Banyak sekali. Saya masih penasaran, saya minta diotopsi jenazah petugas KPPS, polisi, maupun petugas lainnya," tuturnya.


Diungkapkannya, banyaknya anggota KPPS dan petugas pemilu yang meninggal pada pemilu kali ini merupakan rekor baru.

"Saya tidak pernah melihat orang mati sebanyak ini selama saya mengikuti pemilu dari tahun 1970-an nggak ada sebanyak ini. Ini mencurigakan," tuturnya.

Sementara itu Said Didu menghubungkan banyaknya petugas pemilu yang meninggal dengan pemilu yang disebutnya jauh dari jujur dan adil.

"Jadi kita berkesimpulan bahwa seluruh komponen bangsa mengakui bahwa pemilu kali ini hanya berlangsung damai. Itu kesimpulan yang bisa kita sepakati. Saya menantang siapapun yang berani menyatakan pemilu kali ini tidak curang," kata Said.

Dia pun mengaku tidak pernah mendengar ada pejabat pemerintah yang mengatakan bahwa Pemilu 2019 telah berlangsung jujur dan adil.

"Saya menyatakan tidak pernah (dengar/melihat) ada pejabat atau penyelenggara pemilu yang menyatakan Pemilu 2019 berlangsung luber dan jurdil, tidak pernah. Semua pejabat menyatakan bahwa pemilu 2019 pencoblosannya berlangsung lancar dan damai. Setelah pencoblosan, bergelimpangan ratusan orang meninggal. Jadi Pemilu 2019 pencoblosannya berlangsung damai dan lancar tapi dirancang untuk curang sehingga berdampak kepada banyaknya orang meninggal," ungkapnya.


Sebelumnya diberitakan, Staf Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin terheran-heran atas keinginan kubu BPN Prabowo membongkar jenazah anggota KPPS. Mendengar usulan semacam itu, Ngabalin tidak tega membayangkan keluarga almarhum dan almarhumah anggota KPPS yang gugur menyukseskan Pemilu 2019.

"Kasihan keluarga anggota KPPS bila kemudian ada pernyataan seperti itu. Itu pernyataan yang tidak berempati," kata Staf Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP) ini kepada wartawan, Sabtu (4/5).

Menurutnya, BPN telah berburuk sangka soal kematian para anggota KPPS, seolah-olah mereka meninggal dunia akibat kecurangan soal Pemilu 2019. Ngabalin menilai kecurigaan soal adanya misteri kecurangan disebabkan tiadanya rasa legowo terhadap Pemilu 2019.

"Itu artinya tidak terlalu ikhlas. Bagaimana mungkin kematian dan ajal bisa digugat? Bagaimana mungkin Anda bisa mengeluarkan pernyataan begitu? Itu artinya nalar positif dan religiositasnya harus di-restart," ujar Ngabalin, heran.


Simak Juga Video KPU: Bangsa Ini Patut Berterima Kasih kepada KPPS!

[Gambas:Video 20detik]

(nvl/nvl)