detikNews
Sabtu 04 Mei 2019, 18:55 WIB

Wanita di Polewali Akhirnya Dirawat di RS Jiwa Usai 20 Tahun Dipasung

Abdy Febriady - detikNews
Wanita di Polewali Akhirnya Dirawat di RS Jiwa Usai 20 Tahun Dipasung (Foto: Abdy/detikcom)
Polewali - Sitti Nur (32), warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dipasung selama 20 tahun karena mengalami gangguan jiwa. Kini, rantai yang menjerat kakinya dilepas. Sitti akan dirawat ke RS Polewali Mandar.

Sitti dilepaskan saat dosen dan mahasiswa Akper YKPP Polewali Mandar menggelar bakti sosial untuk menangani Sitti, Sabtu (4/5/2019). Penanganan ini dilakukan dengan melakukan advokasi kepada keluarga untuk membebaskan Sitti dari belenggu rantai yang menjeratnya di dalam kamar.



Sebelum diantar ke rumah sakit, Sitti Nur yang merupakan sulung dari enam bersaudara, terlebih dahulu dimandikan. Dia didandani dengan bantuan sejumlah mahasiswi dari akademi keperawatan YPPP.



Proses pembebasan Sitti Nur berlangsung lama lantaran gembok pengunci rantai baja yang mengikat kakinya sulit terlepas karena berkarat. Pihak keluarga terpaksa menggunakan mesin pemotong agar rantai baja tersebut dapat dilepaskan.

Keluarga menuturkan penyakit gangguan jiwa yang diderita Sitti berawal dari kesurupan yang disusul perasaan takut berlebihan. Kondisinya setelah itu kerap tidak stabil.

"Sejak saat itu kondisinya sudah tidak pernah normal lagi, kerap ketakutan dan marah-marah, sudah pernah dibawa ke rumah sakit jiwa namun kondisinya tidak berubah, makanya terpaksa kami rawat dengan cara dirantai agar tidak berkeliaran, karena ditakutkan akan mengganggu warga," ujar ibu Sitti, Irawati.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Batu, Sunarto, mengakui lambatnya penanganan penyakit yang diderita Sitti. Hal itu dikarenakan tidak adanya informasi dari warga dan pihak keluarga.

"Ini tidak ada yang melapor, pihak keluarga merahasiakan, sehingga kita sebagai pemerintah desa tidak tahu, kita berharap warga tidak malu untuk melaporkan jika ada sanak keluarganya yang menderita penyakit, supaya bisa kita segera tangani untuk diberikan pertolongan," kata Sunarto.

Sementara itu, salah seorang dosen, Frendy Akbar, berharap advokasi yang dilakukan sejak 2015 mendapatkan dukungan dari semua pihak. Dia juga berharap tidak ada lagi penderita gangguan jiwa yang menghabiskan hidupnya dalam pasungan.

"Keluarga harus memahami bahwa tindakan pasung itu bukan pilihan yang tepat, pilihan yang tepat itu perawatannya adalah dengan melepaskan pasung kemudian mengarahkan pasien untuk berobat ke pelayanan kesehatan," ujar Frendy yang menjadi relawan penanganan penderita gangguan jiwa yang hidup dalam pasungan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, Frendy mengatakan sedikitnya 24 warga penderita gangguan jiwa di Polewali Mandar hidup dalam pasungan. Namun, sambung Frendy, hal itu belum ditangani dengan baik.

"Akan tetapi masih banyak yang belum terdeteksi, contoh kecil di desa lain, ada penderita gangguan jiwa yang baru beberapa bulan menjalani pemasungan, itu sama sekali belum pernah tertangani apalagi didata," ujarnya.



(knv/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed