Mengenal Sejarah Lagu Buruh 'Internasionale' Versi Indonesia

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 01 Mei 2019 15:33 WIB
Karya Cukil Kayu gambar Ki Hajar Dewantara, tahun 1919. (Magazine De Boekenwereld/Wikimedia Commons)
Jakarta - Di Hari Buruh Internasional (May Day), lagu ini biasa dikumandangkan massa. Lagu ini berasal dari Benua Biru, namun telah dialih-bahasakan oleh Ki Hajar Dewantara.

Perpustakaan Nasional menjelaskan perihal Hari Buruh Internasional lewat akun Facebook resminya, Rabu (1/5/2019). Hari Buruh diawali pada Abad 19, saat para buruh di Amerika Serikat diperas keringatnya, bekerja 19 hingga 20 jam per hari. Sehari, mereka hanya istirahat empat jam saja.

1 Mei 1886, para buruh turun ke jalan, berdemonstrasi menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam. Tuntutan itu dikabulkan. Kongres Sosialis Dunia di Paris pada 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh yang diperingati tiap tahun secara internasional.



Indonesia juga menggelar peringatan 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia. Perpustakaan Nasional mengunggah foto berita Antara pada 1946, masyarakat memperingati Hari Buruh dengan melakukan pertemuan di Balai Agung Jakarta, mulai pukul 10.00 WIB pagi. Rangkaian acaranya diawali pembukaan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pemaknaan 1 Mei, pidat, dan dilanjutkan menyanyikan lagu Internationale.

Mengenal Sejarah Lagu Buruh 'Internasionale' Versi IndonesiaPerayaan pemilihan Komune Prancis 28 Maret 1871. (Wikimedia Commons)


Apa itu lagu Internationale?

Tesis dari alumni dan staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI), Budi Prihartanto dan Y Edhi Susilo, menjelaskan bahwa lagu L'Internationale digunakan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai cambuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

L'Internasionale adalah syair Berbahasa Prancis karya Eugene Pottier tahun 1871 dalam pelarian usai mengudeta pemerintahan borjuis Paris. Kudeta itu berhasil, pemerintahan proletar terwujud meski hanya berumur dua tahun.



L'Internationale telah banyak diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, umumnya bahasa dari negara penganut sosialisme seperti Cina, Vietnam, Korea, Rusia, dan lainnya. Tentu saja ada versi Bahasa Inggris. Bahkan pada rentang tahun 1922- 1944, L'Internationale pernah menjadi lagu kebangsaan Uni Soviet.

Sejak saat itu, lagu L'Internasionale semakin lekat dengan kaum sosialis yang memusuhi kapitalisme serta penjajahan. Lagu itu menjadi punya relevansi dengan orang-orang di negara terjajah seluruh dunia.

Ki Hajar Dewantara yang belakangan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, adalah tokoh revolusioner di masa penjajahan Belanda. Namanya saat itu adalah Suwardi Suryaningrat (Soewardi Soerjaningrat). Dia menerjemahkan syair lagu L'Internasionale berbahasa Prancis ke Bahasa Melayu (saat itu belum ada nama 'Bahasa Indonesia').

Mengenal Sejarah Lagu Buruh 'Internasionale' Versi IndonesiaFoto: Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Balai Pustaka. (Wikimedia Commons)

Terjemahan L'Internasionale oleh Suwardi ke dalam bahasa Melayu disusun dalam gaya rima pada tiap akhiran kalimatnya. Mirip pantun. Suwardi memang punya kecakapan dalam bidang sastra.



Di balik estetika gaya bahasa dan pemilihan kata dalam terjemahan L'Internasionale versi Suwardi, banyak yang mempertanyakan isi beserta maknanya. Hingga saat ini masih banyak menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi, bahkan oleh para penganut paham komunis internasional.

Terjemahan itu pertama dimuat di harian Sinar Hindia pada 5 Mei 1920, sebuah surat kabar yang dikeluarkan oleh Sarekat Islam Semarang atau dikenal sebagai 'Sarekat Islam Merah'.

Meski L'Internasionale lekat dengan kaum sayap kiri, namun Suwardi bukanlah orang kiri secara institusional. Suwardi bukan anggota Sarekat Islam Merah, bukan juga anggota ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) yang berdiri tahun 1914, bukan pula anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) yang berdiri pada tahun 1924.

Mengutip Harahap, Budi Prihartanto dan Edhi Susilo menjelaskan, mudah diduga jika semangat Suwardi ketika menerjemahkan lagu L'Internationoale tentu tak terlepas dari sikapnya yang anti kapitalisme dan imperialisme serta wawasan sosialisme yang dianutnya.

Berikut adalah syair lagu Internasionale versi terjemahan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara:

Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar

Lenyapkan adat dan faham tua
Kita rakyat sadar! Sadar!
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita

Perjuangan penghabisan
Kumpulah melawan
Internasionale
Pasti di dunia

(dnu/tor)