Polisi Selidiki Aliran Duit Rp 16 M di Kasus Penipuan Ketua Kadin Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 12 Apr 2019 10:39 WIB
Foto: Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra (tengah). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta - Polisi masih menelusuri jejak aliran duit Rp 16 miliar dari kasus dugaan penipuan yang dilakukan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra. Sebab, ada indikasi sebagian uang itu telah digunakan untuk lobi-lobi.

"Apakah Rp 16 m itu digunakan tersangka dananya ke mana akan kita dalami, karena ternyata pengajuan izin dari gubernur oleh PT BSM ini berproses ," ujar Dirkrimum Polda Bali Kombes Andi Fairan di Mapolda Bali Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Jumat (12/4/2019).


Dalam perjanjian kerja sama, pelapor dan tersangka sepakat membentuk PT Bangun Segitiga Mas (BSM) untuk menggarap pengembangan kawasan pelabuhan Pelindo Benoa. Duit Rp 16 miliar yang disetorkan pelapor Sutrisno Lukito Disastro merupakan duit operasional untuk memuluskan perizinan pengembangan kawasan Pelabuhan Pelindo dari gubernur.

Andi menyebut saat jatuh tempo 6 bulan tersangka tidak sukses mendapatkan izin rekomendasi dari gubernur. Meski begitu, persetujuan DPR agar gubernur mengeluarkan surat rekomendasi sudah terbit sehingga diduga ada tokoh lain yang ikut kecipratan duit operasional tersebut.

"Ada surat dari PT BSM ke Bappeda, kemudian Bappeda melakukan kajian internal dan segala macem, sampai PT BSM mendapatkan persetujuan rekomendasi dari gubernur, artinya sudah mendapat keputusan politik dari DPR untuk menyetujui PT BSM untuk mendapatkan rekomendasi gubernur sebanyak 400 ha di kawasan pembangunan. Ketika akan menjadi rekomendasi dari gubernur itu tidak terjadi yang kami dapatkan sehingga kita akan dalami apakah dana ini hanya memang digunakan tersangka Alit mengatasnamakan orang-orang itu ataukah memang ada yang bergeser ke pihak lain untuk mendapatkan itu ke pihak lain-lainnya. Jika ditemukan akan kita tindak lanjuti," paparnya.


Sebelum masuk ke tahanan, Alit mengaku menyetorkan duit ke Sandoz, Made Jayantara, dan Candra Wijaya. Polisi mengaku sudah memeriksa ketiganya sebagai saksi.

"Pengakuan dia (menyetorkan duit), tapi kan kita belum kroscek apakah dana yang mengalir dan dialirkan ke pihak lain itu unutk mengurus surat izin itu. Karena kan di perjanjiannya dialah yang menyanggupi membuat izin, misalnya kerja sama dengan pelindo dia menyanggupi, amdal dia menyanggupi. Masalahnya apakah dia punya tim-tim yang lain kita juga baru pendalaman di situ," jelasnya.

Polisi berhati-hati dalam menyelidiki kasus ini. Meski begitu, Andi mempersilakan Alit untuk melapor jika merasa dikorbankan.

"Kita harap dari pihak tersangka yang ditahan ini silakan melapor kalo dia merasa di korbankan, dia kan merasa dikorbankan, laporkan kalau merasa siapa yang mengorbankan dia, siapa yang menipu dia. Tapi di kasus ini Sutrino merasa ditipu saudara Gung Alit, kalau Alit merasa juga ditipu atau dikorbankan, laporkan, siapa yang mengorbankan dia," terangnya.

"Kalau misalnya uang yang diserahkan ke para pihak ini dia merasa bahwa dia juga ditipu, sudah memberi uang tapi tidak ada izin laporkan. Kami dengan buka tangan menerima laporan dan akan kita proses," imbau Andi.

Kasus penipuan yang melibatkan Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra berawal dari Januari 2012. Saat itu pelapor, Sutrisno Lukito Disastro berminat untuk investasi di pengembangan di kawasan Pelabuhan Pelindo Benoa.

Dalam kesepakatan itu disetujui Sutrisno menyetorkan biaya operasional senilai Rp 30 miliar. Pembayaran pun sudah dilakukan dua termin dengan total Rp 16 miliar. Setelah uang itu dikeluarkan, izin pun tak keluar dari gubernur. Padahal Uang Rp 16 miliar sudah dikucurkan dan sudah berjalan 6 bulan,

"Kami sudah melakukan pemeriksaan Pelindo III sebenarnya. Dari Pelindo mengatakan kami itu hanya tempat diadakan pengembangan misal reklamasi dan sebagainya, tapi proyeknya di Kementerian Perhubungan di pusat. Mereka mengatakan di tahun 2012 kami tidak ada mau kerja sama dengan pihak ketiga, kami BUMN ada dana negara sendiri. Kami berpikir mungkin saja itu proses penipuannya, sekaan-akan bisa bekerja sama dengan Pelindo tapi Pelindo tidak menginginkan bekerja sama dengan pihak ketiga, buktinya pengembangan sudah berjalan dan proses lelang sudah berjalan di kementerian," tutur Andi Fairan.



Tonton juga video Ketua Kadin Bali Ditahan Gegara Kasus Penipuan Hingga Rp 16 M:

[Gambas:Video 20detik]

(ams/idh)