DetikNews
Rabu 10 April 2019, 16:59 WIB

Polisi soal Kasus Audrey: Korban Mengaku Dianiaya 3 Orang

Tim detikcom - detikNews
Polisi soal Kasus Audrey: Korban Mengaku Dianiaya 3 Orang Ilustrasi (Fuad Hashim/detikcom)
Pontianak - Polisi telah memeriksa ibunda A terkait kasus pengeroyokan di Pontianak, Kalimantan Barat, yang kasusnya sampai memicu petisi viral 'Justice for Audrey' ini. Berdasarkan pengakuan A yang disampaikan sang ibu, dia dianiaya 3 orang dan disaksikan orang lain.

Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir memaparkan kronologi kejadian dalam jumpa pers di Pontianak, Rabu (10/4/2019), yang juga disiarkan lewat Instagram Live kapolresta_ptk_kota. Kronologi ini berdasarkan BAP pihak korban.

"Permasalahan berawal dari korban dan pelaku sindir menyindir terkait mantan pacar karena mantan pacar pelaku adalah pacar sepupu korban. Salah satu orangtua pelaku pernah pinjam uang ke korban Rp 500.000, sudah dikembalikan tapi masih suka diungkit-ungkit jadi pelaku tersinggung," kata Kombes Anwar.



Pada 29 Maret 2019, terduga pelaku mengirim SMS untuk janjian ketemu dengan korban di suatu lokasi. Korban kemudian dijemput saksi D dan P dengan alasan untuk menyelesaikan masalah terduga pelaku dan korban lalu naik motor bertiga di lokasi.

"Di situ ada TR, EC, dan LL dan beberapa rekan lainnya yang korban tidak kenal. Keseluruhannya sekitar 10 orang yang menunggu," ujar Anwar.

Anwar mengatakan TR mencecar korban, lalu EC menyiram korban dari belakang. Korban balas menjambak rambut EC dan EC menendang sisi belakang korban sampai jatuh. EC lalu memukul ke arah wajah dan kepala korban hingga korban jatuh lagi.

"EC menginjak perut dan membenturkan kepala korban ke aspal sambil menjambak," katanya.



Korban sempat melarikan diri bersama P dari lokasi di pinggir jalan. TR, LL, dan EC mengejar dan mencegat hingga korban turun dari motor. TR lalu memperlihatkan chat sambil memiting leher dan memukul kepala korban berkali-kali.

"LL menendang wajah dan menampar dengan sandal kemudian EC pada saat posisi korban jatuh menekan kelamin korban hingga korban merasa nyeri di kelaminnya," papar Anwar.

Peristiwa pada 29 Maret 2019 ini baru diadukan ke polisi pada 5 April 2019 sehingga kemudian dilakukan visum sepekan setelahnya. Anwar juga mengungkapkan hasil visum dari RS Promedika tempat korban dirawat. Hasilnya, tidak ada bekas lebam dan memar di tubuh korban.

"Alat kelamin, selaput dara atau hymen, intact. Tidak tampak luka robek atau memar," ucap Anwar.

"Kulit tidak ada memar, lebam, maupun bekas luka," tambahnya.



Anwar menyatakan bahwa kronologi yang dia paparkan adalah berdasarkan pengakuan korban. Saat ini, polisi masih dalam proses penyidikan termasuk memeriksa terduga pelaku.

"Kronologi ini sementara hasil dari versi korban, pemeriksaan masih berjalan. kita masih menunggu hasil BAP, sementara masih di KPPAD, para calon pelaku ini. Ini kronologi versi korban, kalau dilihat kesesuaian, hasil visum sudah menjawab. Nanti tinggal kita sinkronkan antara keterangan para saksi, korban maupun pelaku. Kesesuaian ini kronologi yang sebenarnya," ungkap Anwar.

Video: Nikita Mirzani Imbau YouTuber untuk Tidak Ekspos Wajah A

[Gambas:Video 20detik]



Sebelumnya, Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati Ishak menceritakan total ada 12 siswi SMA dari berbagai sekolah di Pontianak yang terlibat dalam pengeroyokan ini. Pelaku utama yang mengeroyok korban berjumlah 3 orang.

"Dua orang provokator, tiga orang pelaku utama, sementara 7 sisanya menyaksikan tapi tidak menolong dan tidak melerai," kata Eva saat dihubungi, Selasa (9/4/2019).




Penuturan Ibunda A

Saat dihubungi pada Selasa (9/4) malam, ibunda A, Lilik menceritakan momen A menceritakan soal pengeroyokan yang dia alami. A tidak langsung bercerita setelah mengalami penganiayaan tersebut.

"Setelah dipukul oleh 3 orang yang kontak fisik itu, dia nggak langsung bicara sama saya. Weekend dia di rumah mbahnya. Hari Jumat pemukulan, hari Senin dia sekolah, masih kuat, Selasa masih sekolah, hari Rabu nggak kuat. Ketahuan di situ, di kamar saya dia muntah," kata Lilik lewat telepon.

"Ternyata setelah pemukulan Jumat, 29 Maret, itu dia sudah muntah-muntah, tapi dia nggak tahu kenapa. Ternyata karena kepalanya dibenturin ke aspal. Mungkin kondisinya syok. Jadi saya ambil keputusan harus lapor ke kepolisian," sambungnya.
(imk/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed