DetikNews
Selasa 02 April 2019, 18:40 WIB

Banyak Game Berkonten Negatif, KPAI Dorong Pemerintah Review Peraturan

Matius Alfons - detikNews
Banyak Game Berkonten Negatif, KPAI Dorong Pemerintah Review Peraturan KPAI mendorong pemerintah untuk mengkaji aturan game elektronik untuk melindungi anak-anak dari pengaruh negatif. (Matius Alfons/detikcom)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menindaklanjuti pengaduan masyarakat terkait game online dan offline yang bermuatan negatif. KPAI mengambil sikap juga terkait peristiwa penembakan di Selandia Baru (New Zealand) dan kejadian anak-anak di Jawa Timur yang mesti mendapat penanganan khusus akibat keranjingan main game online.

"KPAI memandang penting untuk me-review Peraturan Menkominfo Nomor 11 Tahun 2016 karena peraturan tersebut belum mengakomodasi kepentingan terbaik bagi anak dan ikhtiar bagi anak untuk memastikan perlindungan anak dari dampak negatif game ya, terutama game online," kata Ketua KPAI Susanto di kantornya, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakpus, Selasa (2/4/2019).


Dia mengatakan dalam waktu dekat KPAI akan mengirim surat kepada Menkominfo Rudiantara. KPAI berharap Menkominfo memberikan respons cepat demi kepentingan anak Indonesia.

Di lokasi yang sama, komisioner KPAI Bidang Cybercrime dan Pornografi Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan KPAI tidak akan permisif terhadap game online bermuatan negatif. Dia menjelaskan game yang ditolak KPAI adalah yang mengandung konten kekerasan, pornografi, mengandung perilaku sosial menyimpang, dan perjudian.

"Ini fokusnya bagaimana upaya perlindungan anak yang ada di situ dalam aturan apa pun, termasuk permen itu. KPAI stand point-nya adalah zero untuk game bermuatan negatif," kata Margaret.


KPAI menaruh perhatian pada game karena anak-anak memiliki kecenderungan meniru hal yang dilihat, dibaca, dan disaksikan. Namun KPAI menegaskan tetap mendukung game yang punya nilai edukasi kepada anak-anak. Laporan yang diterima KPAI ialah dari anak-anak tingkat SD-SMA.

Dalam kondisi ini, KPAI menyoroti game yang sesuai umur anak, perhatian orang tua, dan soal durasi waktu bermain game bagi anak. Orang tua diminta mengontrol waktu bermain game anak agar tidak sampai tahap kecanduan. Tak kalah penting adalah peran guru agar selalu mengingatkan siswa untuk ingat waktu saat main game.

"Anak harus direhabilitasi ketika sudah kecanduan ini dan rehabilitasi ini sama beratnya dengan kecanduan narkoba, proses rehabnya," ucap komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.


Retno mengatakan KPAI mendapat laporan anak umur 9 tahun yang kecanduan game. Anak ini bahkan hingga mengambil uang orang tua untuk kebutuhan game. Selain itu, ada anak yang dikeluarkan dari sekolah karena sering absen.

"Kemudian kita mendapat laporan anak yang dikeluarkan dari sekolah yang setiap hari tidur. Jadi ketika di sekolah tidur, tapi di rumah bermain game dari pulang sekolah hingga pagi hari. Ini akibatkan anak ini tidur di sekolah. Begitu pintu kamar (anak) kekunci, ortu tidak tahu. Begitu ortu masuk (kamar anak), dia akan ganti laptopnya. Ini penting bagaimana ortu dalam pola asuh miliki perhatian karena hal-hal semacam ini justru diketahui ketika berada di sekolah," kata Retno.



Simak Juga 'Tak Hanya PUBG, Ini Hasil Diskusi MUI soal Game':

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed