DetikNews
Selasa 02 April 2019, 15:26 WIB

Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu, Seberapa Ganas Efeknya?

Tim detikcom - detikNews
Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu, Seberapa Ganas Efeknya? Ilustrasi tak berkaitan dengan berita: Venus of Willendorf, Patung berusia 30.000 tahun (Foto: DW News)
Jakarta - Fenomena politik ini klasik namun terus diulang: skandal foto bugil politikus tersebar di khalayak umum. Yang terbaru, ada foto orang Istana Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin yang beredar di Twitter. Sehari berselang, beredar foto Ferdinand Hutahaean tanpa baju. Kedua foto itu punya kecenderungan sama, yakni membawa skandal berbau seksual yang melibatkan lawan jenis.

Pertama, foto Staf Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin tersebar lewat jejaring media sosial. Warganet ramai membicarakan foto itu, foto yang berisi seorang pria tanpa baju dan celana.

Dia tak ingin berprasangka buruk soal motif yang melatarbelakangi penyebaran foto itu, dia hanya berharap publik tidak memandang buruk ke dirinya hanya karena beredarnya foto itu.

Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu, Seberapa Ganas Efeknya?Foto ilustrasi: Ali Mochtar Ngabalin (Edi Wahyono/detikcom)

"Itu sebabnya saya juga harus kasih tahu supaya publik tidak merasa bahwa, jangan mereka memberi penilaian macam-macam terkait diri Bang Ali," kata Ngabalin, Senin (1/4/2019).




Sehari sesudahnya, foto politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean tersebar di Twitter. Anehnya, penyebar foto itu adalah akun @Ferdinand_Haean sendiri. Usut punya usut, akun itu ternyata sudah diretas. Begitulah pengakuan si pemillik akun. Akun itu menampilkan foto Ferdinand tanpa baju, foto seorang perempuan. Ada juga video yang beredar berisi kompilasi foto dan tangkapan layar percakapan pesan tertulis.

"Memang ada foto saya yang asli yang saya simpan, yang mukanya tergores, disimpan di e-mail saya sebagai barang bukti pernah laporan kekerasan kala itu. Tapi foto-foto seperti video itu segala macam saya pastikan fitnah hoax, editan, itu bukan foto saya," kata Ferdinand.

Pada suasana Pemilu 2019, Ngabalin sering tampill di publik sebagai pembela capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Sedangkan Ferdinand adalah politikus partai yang turut mendukung rival Jokowi, yakni Prabowo Subianto. Ferdinand juga merupakan caleg daerah pemilihan Kabupaten Bogor.

Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu, Seberapa Ganas Efeknya?Ferdinand Hutahaean dari Partai Demokrat (Yulida Medistiara/detikcom)

Tahun lalu di suasana jelang Pemilu Kepala Daerah (Pilkada), publik juga dihebohkan dengan munculnya foto seorang tokoh yang sedang dibicarakan bakal maju ke kontestasi Pilgub Jawa Timur 2018. Tokoh itu adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang saat itu hendak maju sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur.




Anas menganggap ada proses pembunuhan karakter terkait polemik pencalonan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim. Dalam foto yang beredar melalui instant messenger itu, terlihat foto seorang pria yang diduga Anas tengah memangku kaki wanita di dalam sebuah mobil.

Pada April 2017, muncul foto bugil di internet yang dikaitkan dengan Aryo Djoyohadikusumo, politikus dan anggota DPR dari Partai Gerindra. Pada Mei 2018, muncul sebuah video syur berjudul 'aryodj di apartemen' yang pemeran lelakinya disebut-sebut mirip Aryo. Pihak keluarga dan Gerindra membantah bahwa pria di foto dan video itu adalah Aryo.

Apa tujuan pengguliran skandal ini? Memang skandal seks adalah perkara memalukan karena menyangkut soal kemaluan. Namun bila merujuk ke konteks pemilihan umum sebelumnya, karier politikus yang tersandung oleh skandal seks tak selalu gagal.

Pada 2010 silam, muncul skandal foto mesum yang beredar di Facebook, memuat Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan Siti Qomariyah dan Wahyudi Pontjo Nugroho. Akun Facebook penyebar foto menyertakan kalimat "Kemesraan modal awal membangun komitmen bersama untuk menjadi Bupati dan Wakil....berikut hobi menyalurkan birahi di hari valentine". Pontjo sangat geram dan membantah kebenaran foto itu, soalnya dia sama sekali tak main Facebook.



Peredaran foto-foto 'panas' keduanya bukan sesuatu yang baru. Hal serupa pernah terjadi pada tahun 2006 lalu, tepatnya menjelang pelaksanaan Pilkada Pekalongan. Saat itu Qomariyah dan Pontjo merupakan salah satu pasangan calon bupati dan calon wakil bupati.

Tapi kisah perselingkuhan tersebut tidak menjadi batu sandungan bagi keduanya untuk meraih posisi tertinggi di Kabupaten Pekalongan. Pasangan yang diusung PKB dan Partai Golkar ini tetap memenang pilkada dengan memperoleh 227.137 suara atau 52,23 persen. Dan setelah resmi menjadi bupati dan wakil bupati, keduanya juga tidak bercerai dengan pasangannya masing-masing.

Di masa lalu, ada kasus anggota DPR dari PDIP bernama Max Moein yang dipecat Badan Kehormatan (BK) DPR karena dinilai melanggar etika. Sebelumnya, foto syur Max dengan seorang perempuan tersebar ke publik pada 2008. Ada pula Yahya Zaini, anggota DPR dari Golkar yang mundur dari jabatannya itu usai video mesumnya dengan pedangdut Maria Eva tersebar pada 2





Karolin Margret Natasa adalah politikus yang pernah terseret kasus video porno. Video skandal yang menyeret-nyeret namanya menyeruak pada 2012 silam. Dia dulu adalah anggota Komisi IX Fraksi PDIP DPR.

BK--yang kini namanya menjadi MKD--DPR langsung merespons kabar tersebut dan segera memprosesnya. Karolin kemudian dipanggil oleh BK. Karolin pun membantah bahwa dirinya yang ada di video tersebut.

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Polri pun bergerak untuk mengusut kasus ini. Hingga akhir 2012, kasus ini akhirnya tak terbukti. BK akhirnya menutup kasus ini pada Juni 2012. BK menyerahkan kepada kepolisian untuk mengusut kasus video porno tersebut. Singkat cerita, sulit dibuktikan bahwa perempuan di video mesum itu adalah Karolin. Kasus ditutup.




Meski diterpa isu kasus video porno, Karolin mendapat suara tertinggi dalam Pemilu Legislatif 2014. Kini Karolin menjabat sebagai Bupati Landak dan mencalonkan diri sebagai cagub di Pilgub Kalimantan Barat.

Jadi, apakah skandal seks efektif menjatuhkan karier politik seseorang? Seberapa ganaskah efek foto dan video itu dalam menggerus elektabilitas pihak di Pemilu?
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed