"Lahan yang dikerjakan adalah tanah milik orang. Mereka menjadi buruh tani," ungkap Zulkifli dalam keterangannya, Sabtu (23/3/2019).
Pria asal Lampung itu juga membayangkan bagaimana anak keturunan mereka kelak. Ia ingat akan kata Bung Karno, bahwa bangsa ini bisa menjadi kuli di negerinya sendiri bila kondisinya demikian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu dirinya berharap agar para mubaligh yang datang dari seluruh daerah untuk ikut mengedukasi masyarakat.
"Sebagai sosok yang menjadi tauladan, ulama, ustad, dan mubaligh perlu mengedukasi umat," ujarnya.
Zulkifli mengatakan bahwa perlu memberikan kabar kepada masyarakat bahwa pemilu adalah sarana untuk memperbarui komitmen dan menentukan jalan hidup rakyat, bangsa, serta negara. Dalam Pemilu ditegaskan, rakyat bebas memilih calon presiden dan wakil rakyat sesuai pilihannya. Sehingga Pemilu disebut sukses apabila berhasil menjahit merah putih dan mempersatukan kembali perbedaan.
Untuk itu dirinya mewanti-wanti agar penyelenggara pemilu dilaksanakan dengan adil dalam pelaksanaannya. Hal tersebut dirasa penting dilakukan sebab pemilu itu bisa berlangsung damai apabila dilakukan secara Luber Jurdil.
"Mereka telah disumpah untuk taat konstitusi. Mereka harus mengayomi semua. Jadi Pemilu damai tak serta merta," ujarnya.
Hadirnya ulama di tengah masyarakat untuk mengatasi tantangan kebangsaan, menurut Zulkifli sudah dilakukan sejak tahun 1900-an. Pada masa itu lahir organisasi-organisasi ulama yang peduli pada masalah kebangsaan, keummatan, pendidikan, dan perdagangan.
Dicontohkan pada masa itu lahir organisasi Jammiatul Khair, Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Muhammadiyah, NU, Persis, dan lain sebagainya. Dari sejarah yang ada tersebut, Zulkifli heran bila ada yang mengatakan banyak ulama radikal.
"Berarti mereka nggak paham sejarah. Sejarah menunjukan keislaman dan kebangsaan adalah seiring sejalan," tambahnya.
Untuk memberdayakan umat Islam, Zulkifli juga mendorong kepada para mubaligh untuk meniru Nabi Muhammad di mana pada waktu itu Nabi menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan. Dari masjid, problem kesenjangan dan kemiskinan yang ada di masyarakat diharap bisa diatasi.
"Dari masjid lah peradaban umat Islam dibangun," tuturnya.
Ia juga menyebutkan bahwa peradaban yang dibangun Nabi dikatakan mengalahkan peradaban lain yang sudah ada. (idr/idr)










































