Penjaga Laut Pamer Kekuatan Atasi Kelompok Bersenjata Bajak Kapal

Robi Setiawan - detikNews
Selasa, 26 Feb 2019 13:40 WIB
Foto: Robi Setiawan
Jakarta - Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-31. Bertempat di Kantor PLP Tanjung Priok, Jakarta, perayaan diisi dengan upacara yang dilanjutkan pertunjukan dan atraksi pasukan penjaga laut.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Agus H. Purnomo mengatakan tantangan menjaga laut di masa depan semakin berat.

"Pangkalan PLP yang ke-31 berarti bahwa penjaga laut dan pantai sudah mengabdi selama 31 tahun untuk melaksanakan fungsi penjagaan dan penegakan peraturan perundang-undangan di laut dan pantai," kata Agus di Kantor PLP Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/2/2019).



Ia pun menyebut insan PLP perlu dibekali dengan berbagai kemampuan penunjang tugas penjagaan laut. Hal ini mengingat tugas dan tantangan PLP ke depan semakin berat.

"Tantangan dalam menjaga dan menegakkan peraturan di laut sangat kompleks, mengingat pelanggaran di laut bersifat multicrimes," katanya.

Pada perayaan HUT PLP ke-31 ini, PLP pun menunjukkan kemampuan yang sudah dimiliki insan PLP dalam menjalankan tugas-tugasnya. Demo pertama adalah kemampuan insan PLP dalam baris berbaris.

Instruktur yang memimpin pasukan baris berbaris ini mengatakan formasi baris berbari PLP terbagi dua, yaitu untuk tempat terbatas dan luas. Keduanya sama-sama mewakili prinsip PLP, di antaranya adalah menjalankan tugas dengan ikhlas.

"Rumit, kalau mereka tidak ikhlas sulit disatukan. Telinga dan tubuh harus menyatu agar kompak," katanya.


Kelompok selanjutnya yang tampil unjuk kemampuannya adalah tim bela diri. Dalam demonya tim yang terdiri dari 11 anggota PLP ini beraksi memeragakan teknik bela diri, hingga atraksi menghancurkan papan kayu dengan tendangan, mematahkan es balok, besi, dan pipa beton menggunakan tangan kosong.

Bukan hanya bertarung dengan tangan kosong, PLP juga dibekali dengan kemampuan menggunakan senjata api. Pada demo berikutnya enam orang insan PLP memperagakan kemampuannya membongkar-pasang senjata laras panjang berjenis Valmet dengan keadaan mata tertutup.

Acara demo pun berlanjut dan semakin meriah ketika tim dari PLP melakukan simulasi pengamanan sebuah kapal yang dikuasai oleh kelompok bersenjata. Dibekali dengan pakaian taktis, lengkap dengan senjata, tim menunjukkan cara melumpuhkan kelompok bersenjata. Mulai dari menodongkan senjata, berkelahi hingga ketika mereka menyerang.

Penonton pun kemudian dibuat kaget ketika sebuah ledakan menggelegar di sekitar area simulasi. Ledakan tersebut adalah gambaran bom yang dibawa kelompok bersenjata hingga kpal terbakar.

Dari sini lah kemudian pasukan berikutnya datang, yaitu tim yang bertugas memadamkan kebakaran di kapal dengan cara pendinginan sebelum ke tahapan pemadaman api. Tim tersebut juga menyelamatkan korban yang terjebak api.

Simulasi tersebut pun berakhir dengan kondisi kapal yang sudah berhasil diamankan dan dipadamkan dari kebakaran. Evakuasi korban pun dilanjutkan dengan penanganan lebih intensif, yaitu membawa korban menggunakan ambulans ke rumah sakit terdekat.

Belum selesai sampai di situ, sesi demo pun ditutup dengan pertunjukan marching band yang dilakukan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Bukan hanya membawakan lagu, marching band juga melakukan berbagai formasi yang membuat penonton terpukau.



(mul/ega)