DetikNews
Senin 11 Februari 2019, 20:00 WIB

Bahaya Pilpres Rasa El Clasico

Usman Hadi - detikNews
Bahaya Pilpres Rasa El Clasico Haedar Nashir (Akrom Hazami/detikcom)
Jakarta - El Clasico, begitulah Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengibaratkan Pilpres 2019. Kontestasi pemilihan presiden yang mempertemukan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, yang notabene rival pada Pilpres 2014, dipandang Haedar Nashir berbahaya lantaran berpotensi membelah.

"Situasi politik sekarang ini kan memang membelah (masyarakat). Ini kan akibat dari dua pasangan (capres) yang ini ulangan dari periode yang lalu (pada Pilpres 2014). Jadi kayak El Clasico," ucap Haedar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (11/2/2019).


El Clasico yang dimaksud Haedar adalah pertandingan klasik di Liga Spanyol antara Real Madrid dan Barcelona. El Clasico, dalam konteks pertandingan sepakbola sesungguhnya, terkenal keras, panas, dan berlangsung sengit.

Haedar berbicara tentang pilpres rasa El Clasico di sela seminar pratanwir Muhammadiyah 'Beragama yang Mencerahkan dalam Perspektif Politik Kebangsaan'. Awalnya Haedar menjelaskan agenda sidang tanwir yang akan digelar PP Muhammadiyah di Bengkulu pada 15-17 Februari 2019. Bahasan utama sidang tanwir tersebut tentang 'Beragama yang Mencerahkan'.

Dijelaskannya, sidang tanwir ini digelar untuk menyikapi dangkalnya pemahaman agama masyarakat sehingga kerap dimanfaatkan para politikus. Kedua, untuk menyikapi polarisasi akibat kontestasi Pilpres 2019. Menurut Haedar, polarisasi yang terjadi di masyarakat terjadi karena Pilpres 2019 merupakan ulangan Pilpres 2014, yang kembali mempertemukan dua capres yang sama.


"Karena El Clasico itu kan muara menang-kalahnya itu tinggi sekali. Nah, akibatnya terjadi apa? Ya to be or not to be. Ketika masyarakat berpolitik to be or not to be, lalu menjadi absolut harus menang dan jangan kalah," paparnya.

"Apa yang terjadi? Itu (keyakinan to be or not to be berpotensi memantik) suasana yang potensial untuk adanya rasa permusuhan, rasa saling terancam, kebencian, dan sebagainya," ungkapnya.


Untuk menghadapi situasi tersebut, kata Haedar, Muhammadiyah mencoba menghadirkan keseimbangan. Muhammadiyah mengajak masyarakat berpikir jernih dalam menghadapi Pilpres 2019.

"(Kami) mengajak masyarakat untuk berpikir lebih jernih, lebih kontemplatif, dan kembali pada ajaran agama yang mengajarkan kedamaian, persaudaraan, kemudian juga kebajikan, terus juga nilai-nilai amanah," jelas Haedar.
(gbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed