DetikNews
Senin 11 Februari 2019, 16:25 WIB

Penyidik-Penyelidik KPK Dikirim ke Inggris, Belajar Akuntansi Forensik

Haris Fadhil - detikNews
Penyidik-Penyelidik KPK Dikirim ke Inggris, Belajar Akuntansi Forensik Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dan Wakil Dubes Inggris untuk Indonesia, Rob Fenn (Haris Fadhil/detikcom)
Jakarta - KPK bakal mengirim penyelidik dan penyidiknya untuk belajar ke Serious Fraud Office (SFO) Inggris. Menurut KPK, para penyelidik dan penyidik yang dikirim akan belajar soal akuntansi forensik dan hal lain yang jadi keahlian Inggris dalam pemberantasan korupsi.

"Penyidik-penyidik KPK dan penyelidik ingin belajar ke Inggris, khususnya tentang forensic accounting atau hal-hal lain yang kami anggap lebih advance di sana," kata Wakil KetuaKPKLaode M Syarif di GedungKPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).


Syarif menyampaikan hal itu setelah bertemu dengan Wakil Dubes Inggris untuk Indonesia Rob Fenn. Dia juga menyebut saat ini KPK juga sedang menjalin kerja sama dalam penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi.

"Terus terang, pada saat yang sama, kami banyak melakukan penyelidikan dan penyidikan bersama dengan KPK-nya Inggris, Serious Fraud Office," ucap Syarif.

Sementara itu, Rob Fenn bicara soal adanya pusat koordinasi penegak hukum di bidang pemberantasan korupsi yang ada di Inggris yang berisi penegak hukum dari Australia, AS, Kanada, dan Singapura. Nantinya penyidik dan penyelidik KPK juga bakal mendapat penjelasan tentang institusi tersebut.

"Inggris menjadi tuan rumah untuk pusat koordinasi antikorupsi internasional yang baru dibuat, pusat ini menyatukan petugas penegak hukum spesialis dari negara-negara seperti Australia, Kanada, AS, dan Singapura untuk menangani tuduhan korupsi besar. KPK akan mengirimkan delegasi ke London bulan depan untuk memahami institusi ini dapat mendukung investigasi Indonesia," ucap Rob Fenn.

Rob Fenn selanjutnya bicara tentang aturan beneficial owner di Inggris. Dia menyebut Inggris adalah negara pertama yang membuat situs berisi beneficial owner perusahaan di negaranya dengan tujuan mencegah pelaku korupsi menyembunyikan uang hasil kejahatannya.
"Inggris adalah negara pertama di dunia yang membentuk situs khusus beneficial owner untuk publik. Pada tahun pertama, situs ini diakses lebih dari dua miliar kali. Ini berarti para penjahat dan koruptor tidak dapat menyembunyikan hasil korupsi mereka di tempat terpencil," ucap Rob Fenn.

Terakhir, Rob Fenn juga sempat memuji Indonesia sebagai negara yang serius memberantas korupsi. Dia menyebut Indonesia bisa memperjuangkan pentingnya pemberantasan korupsi di kawasan dan dunia.

"Saya pikir Indonesia adalah negara yang serius memberantas korupsi. Reputasi ini tidak didapat dengan mudah, ini penuh perjuangan," ujarnya.
(haf/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed