Geger Taqaddas di Bali, Tak Sekadar Tampar Petugas Imigrasi

Geger Taqaddas di Bali, Tak Sekadar Tampar Petugas Imigrasi

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 06 Feb 2019 23:04 WIB
WN Inggris Inggris penampar staf Imigrasi Bali, Auj-e Taqaddas. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
WN Inggris Inggris penampar staf Imigrasi Bali, Auj-e Taqaddas. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Denpasar - Warga negara (WN) Inggris penampar staf Imigrasi Bali, Auj-e Taqaddas, melakukan tindakan tak patut kepada penegak hukum di Tanah Air. Setelah terbelit kasus hukum karena menampar petugas imigrasi, Taqaddas justru kembali melakukan hal serupa kepada jaksa.

Berawal dari penjemputan paksa Taqaddas. Dia mengamuk saat dijemput paksa jaksa untuk menghadiri sidang vonis kasus penamparan petugas Imigrasi Bali. Saat dijemput, Taqaddas menendang, bahkan memukul jaksa yang menjemputnya.

"Jaksa kita ditendang, dipukul, sewaktu mengamankan. Buat kami, itu kerikil kecil, nggak dimasukkan ke hati. Ada perlawanan, ya ngamuk. Kebetulan kita juga ada videonya," ujar Kasi Intel Kejari Badung Waher Tarihoran di PN Denpasar, Jl PB Soedirman, Denpasar, Bali, Rabu (6/2/2019).

Auj-e Taqaddas di dalam mobil Kejari Badung.Auj-e Taqaddas di dalam mobil Kejari Badung. WN Inggris penampar staf Imigrasi dihukum 6 bulan penjara. (adit/detikcom)


Waher menyebut Taqaddas dijemput di depan bioskop di salah satu mal di Kuta. Taqaddas dijemput saat sedang duduk-duduk santai di depan mal.

Pihak kejaksaan sudah bicara baik-baik sebelum membawa Taqaddas. Namun yang bersangkutan tetap menolak sehingga menendang dan memukul.

"Sejak Sabtu kita pantau pergerakan terdakwa. Kita minta hakim untuk dimajukan sidang untuk hari ini. Seminggu kita pantau, sehingga hari ini pukul 11.30, (dia sedang di) depan mal lagi, duduk santai. Menyatakan kurang sehat, tapi lagi duduk-duduk santai," tutur Waher.

"Dijelaskan jaksa baik-baik, si terdakwa marah-marah, kita jelasin sekali lagi, masih marah-marah juga. Akhirnya kita bawa paksa, masih terus berontak. Sandal putus ya mungkin karena dia nendang-nendang, jaksa saya ditendang," imbuhnya.



Taqaddas dinyatakan bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar menampar staf Imigrasi Bali. Dia divonis hukuman 6 bulan penjara. Putusan tersebut dibacakan hakim hari ini.

"Mengadili menyatakan terdakwa Auj-e Taqaddas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melawan petugas yang sedang bertugas secara sah. Menjatuhkan pidana penjara 6 bulan penjara," kata ketua majelis hakim Esthar Oktavi di PN Denpasar, Jl PB Sudirman, Denpasar, Bali.

Majelis hakim menyatakan Taqaddas terbukti bersalah melakukan penamparan kepada petugas Imigrasi yang sedang bertugas. Hakim juga menyatakan Taqaddas emosional ketika diberi tahu soal overstay 3 bulan ketika di konter Imigrasi Bandara I Ngurah Rai.

"Menimbang fakta-fakta petugas konter memberitahukan terdakwa overstay 3 bulan, lalu meminta paspor dan saat itulah pelaku dalam kondisi marah-marah, yang berada di ruang pemeriksaan. Ketiga di ruangan terdakwa sudah marah-marah sambil memaki petugas," tutur Esthar.

"Tiba-tiba korban ditampar menggunakan tangan kanan mengenai pipi kiri korban. Menimbang korban saat itu melaksanakan tugas pada malam hari, dan saksi mengatakan korban berpakaian dinas, unsur melawan petugas yang sah dan sedang bertugas atau Pasal 212 ayat 1 KUHP telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan," sambung Esthar.



Taqaddas tidak menerima putusan tersebut. Dia terus mengomel setelah putusan dibacakan, bahkan hingga ke luar ruang sidang.

Saat di dalam ruang sidang, Taqaddas sempat berdiri kursi terdakwa dan menunjuk-nunjuk jaksa penuntut umum. Petugas kejaksaan sampai harus mengawalnya ke luar ruang sidang.

"Ini hukum Indonesia, jaksa, hakim, dan polisi korup," cetusnya berulang kali.



Hingga sampai di dalam mobil jaksa, Taqaddas terus berteriak-teriak menggerutu soal putusannya. Dia juga menyatakan bakal mengajukan permohonan banding karena tak terima diputus bersalah akibat menampar anggota staf Imigrasi Bali.

"Saya akan ajukan banding melawan putusan ini karena seluruh proses hukum ini tidak adil. Nggak ada membela saya, saya melawan kasus ini seorang diri dan hakim hanya memberikan saya kesempatan bicara satu kali sebelum putusan," tegasnya. (zak/knv)