WN Inggris Penampar Staf Imigrasi Divonis Hari Ini

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 28 Jan 2019 08:33 WIB
Foto: WN Inggris penampar staf Imigrasi (dita/detikcom)
Denpasar - Warga Negara (WN) Inggris penampar staf Imigrasi Bali, Auj-e Taqaddas, hari ini menghadapi vonis hakim. Sidang vonis sedianya digelar pekan lalu itu ditunda karena Taqaddas sakit.

"Iya, hari ini vonisnya. Sudah kami informasikan sejak kemarin Minggu (27/1) tentang sidang hari ini," kata jaksa I Nyoman Triarta lewat pesan singkat, Senin (28/1/2019).

Sidang vonis yang digelar pada Senin (21/1) lalu namun ditunda karena Taqaddas izin sakit flu dan sakit tenggorokan. Majelis hakim pun memutuskan sidang vonis ditunda pada hari ini dengan agenda pembacaan vonis.
"Sidang ditunda minggu depan, Senin (28/1). Mudah-mudahan tidak berhalangan lagi. Sidang selesai, ditutup," ujar Ketua Majelis Hakim Esthar Oktavi sambil mengetuk palunya.

Sebelumnya Taqaddas menyatakan dirinya tak bersalah meski telah melakukan penamparan staf Imigrasi Bali. Taqaddas berpendapat hal itu dilakukannya sebagai akibat kinerja petugas yang tidak becus.

Jaksa pun menuntut WN Inggris itu selama satu tahun bui. Jaksa meyakini Taqaddas telah bersalah melakukan penamparan dan melanggar pasal 212 KUHP.


Dalam uraiannya, jaksa menyebut Taqaddas emosional dan melawan petugas yang sedang bertugas. Kemudian saat diperiksa di ruangan terkait kasus overstay-nya, Taqaddas malah berusaha merampas paspor miliknya dari tangan petugas.

"Meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan terdakwa Auj-e Taqaddas bersalah melakukan tindak pidana pengancaman sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 212 KUHP dalam surat dakwaan dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa penjara selama 1 tahun penjara," kata JPU I Nyoman Triarta Kurniawan saat membacakan surat tuntutan di PN Denpasar, Jl PB Sudirman, Denpasar, Bali, Senin (7/1).

Selama persidangan berlangsung, Taqaddas berulangkali ngotot dan tak menurut perintah hakim. Berulangkali pula dia ditegur oleh hakim karena ngomel-ngomel merasa tak diberi kesempatan bicara atau didengarkan.

Pakar hukum dari Universitas Udayana Prof I Ketut Rai Setiabudhi berpendapat kasus penamparan staf Imigrasi Bali yang dilakukan Taqaddas merupakan pelanggaran serius. Rai pun menyebut Taqaddas bisa dikenai pasal berlapis, yaitu penganiayaan maupun keimigrasian.

"Kalau menurut saya, itu kasus pidana dia istilahnya main hakim sendiri, seharusnya dia tidak seperti itu. Apalagi dalam melaksanakan tugas keimigrasian, dia tidak boleh, sebenarnya bisa dilaporkan lagi di samping kasus keimigrasian kena kasus pidana umum, apalagi menampar pejabat, itu sudah diperberat hukumannya," kata Rai.

Apalagi, selama menjalani proses hukum, Taqaddas sering kali ngotot hingga bikin onar di pengadilan. "Orang-orang kayak gitu harus dikenai tindakan tegas. Wah, itu sudah penghinaan, harusnya dia kena pasal berlapis," cetusnya.

Jelang putusan, Taqaddas hanya bisa berharap putusannya bisa seringan mungkin. Akankah harapan Taqaddas segera bertemu keluarganya di Inggris dikabulkan hakim? (ams/aan)