Dijual hingga AS, Mufidah Minta Kerajinan Khas Diberi Label Indonesia

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 24 Jan 2019 13:33 WIB
Ketum Dekranas Mufidah Jusuf Kalla membeli beberapa kerajinan tangan khas Kalimantan Utara (Foto: Nur Azizah Rizqi/detikcom)
Tarakan - Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla bertemu para perajin dan pegiat UMKM di Kalimantan Utara. Mufidah membeli beberapa kain dan kerajinan khas daerah tersebut.

Usai berdialog dengan para perajin, Mufidah berkeliling ke beberapa stand yang ada di Balai Adat Tidung dan Budaya, Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (24/1/2019). Ia sempat berhenti untuk bertanya pada seorang perajin yang sedang mengayam tas dari rotan.


"Ini bagus. Berapa harganya?" tanya Mufidah.

"Ini Rp 350 ribu, kalau tikarnya biasa saya jual Rp 1 juta," kata perajin, Haini.

Mufidah mengunjungi beberapa stand yang ada di Balai Adat Tidung dan BudayaMufidah mengunjungi beberapa stand yang ada di Balai Adat Tidung dan Budaya (Foto: Nur Azizah Rizqi/detikcom)

Mufidah lalu memutuskan untuk membeli tas tersebut. Selain itu, Mufidah juga mengunjungi stand salah satu perajin bernama Agatha Chelsia dan membeli beragam kain tradisional dan tas dari kulit kayu.


"Ibu ada pesan sama saya supaya produk kulit kayu saya ini harus ditampilkan dengan 'Made in Tarakan, Indonesia' begitu. Karena tas ini saya udah pernah juga kirim ke New York. Itu pesen dari Ibu," ujar Chelsia.

Kain batik Malinau dan batik Tarakan di stand Chelsia dijual dengan harga Rp 250-450 ribu. Tas kulit kayu ia jual seharga Rp 650-750 ribu, sementara tas kulit rotan ia hargai Rp 350-750 ribu. Chelsia menuturkan kendala dirinya dalam berwirausaha adalah masih kurangnya pelatihan untuk meningkatkan mutu produknya.

"Kendala kami di sini pertama memang untuk pelatihannya kita masih butuh, peningkatan standar mutu kami supaya lebih baik," ucapnya.


Mufidah juga membeli tas anyaman rotan dari stand milik Sulowati seharga Rp 900 ribu. Sulowati menuturkan, Mufidah juga berpesan padanya untuk memberi label 'Made in Indonesia'.

Kerajinan tangan yang ditampilkan semua bernuansa adatKerajinan tangan yang ditampilkan semua bernuansa adat (Foto: Nur Azizah Rizqi/detikcom)

"Tadi pesen ibu juga diberi label 'Made in Indonesia'. Ibu katanya mau bawa ini buat percontohan ke Eropa," tutur Sulowati.

Mufidah sebelumnya membuka acara Sinergi Program Kementerian Koperasi dan UMKM dengan Dekranas dan Tim Penggerak PKK. Mufidah mendorong pelaku UMKM melakukan inovasi agar bisa bersaing secara global.


Mufidah menuturkan, salah satu upaya untuk dapat bersaing adalah mengembangkan produk. Pengembangan yang dimaksud salah satunya dengan mendesain produk yang mengikuti tren.

"Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pelatihan-pelatihan khususnya di bidang desain karena tren desain produk kerajinan sangat cepat berubah. Peningkatan kreativitas dan inovasi desain perlu dilakukan, namun tetap mempertahankan identitas tradisional agar nuansa warisan budaya tetap harmoni dengan kekinian," ujarnya. (azr/jbr)