Hukuman Pembunuh Wartawan Radar Bali Disunat Ancam Kemerdekaan Pers

Aditya Mardiastuti - detikNews
Selasa, 22 Jan 2019 10:59 WIB
Ilustrasi (dok.detikcom)
Denpasar - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar menyesalkan penyunatan hukuman pembunuh wartawan Radar Bali, I Nyoman Susrama. AJI Denpasar pun meminta penyunatan hukuman dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun itu dianulir.

"Pemberian potongan hukuman oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terhadap I Nyoman Susrama yang menjadi otak pembunuh wartawan Radar Bali, Jawa Pos Group, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, adalah langkah mundur terhadap penegakan kemerdekaan pers," kata Ketua AJI Denpasar Nandhang R Astika dalam keterangan tertulis, Selasa (22/1/2019).

Nandhang mengatakan pengungkapan kasus pembunuhan Prabangsa pada 2009 merupakan salah satu bukti penegakan kemerdekaan pers di Indonesia. Sebab, menurutnya, selama ini kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia tidak diungkap tuntas dan dihukum berat.

"Karena itu, vonis seumur hidup bagi Susrama di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar saat itu menjadi angin segar terhadap kemerdekaan pers dan penuntasan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang masih banyak belum diungkap," terangnya.

Nandhang mengenang tak mudah mengungkap kasus tersebut. Karena itu, pemberian potongan hukuman dari pidana penjara seumur hidup menjadi 20 tahun dinilai sangat disesalkan dan merupakan langkah mundur.

"Pemberian potongan hukuman dari seumur hidup menjadi 20 tahun ini bisa melemahkan penegakan kemerdekaan pers, karena setelah 20 tahun akan menerima remisi dan bukan tidak mungkin nantinya akan menerima pembebasan bersyarat. Karena itu AJI Denpasar sangat menyayangkan dan menyesalkan pemberian grasi tersebut," ucapnya.

Dengan pertimbangan tersebut, AJI Denpasar berharap potongan hukuman tersebut bisa dicabut. "Seharusnya ada catatan maupun koreksi baik dari Kemenkumham RI dan tim ahli hukum presiden sebelum grasi itu diberikan," ujarnya.

Untuk itu, AJI Denpasar menuntut agar pemberian grasi kepada otak pembunuhan AA Gede Bagus Narendra Prabangsa dicabut atau dianulir.

Untuk diketahui, kasus ini terjadi pada 2009. Susrama, yang merupakan adik pejabat Bangli, membunuh jurnalis Radar Bali terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Mayat Prabangsa ditemukan di laut Padangbai, Klungkung, 16 Februari 2009, dalam kondisi mengenaskan. (ams/asp)