DetikNews
Minggu 30 Desember 2018, 14:14 WIB

Gelar Refleksi Akhir Tahun, PGK Soroti Keberhasilan Pemerintah

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Gelar Refleksi Akhir Tahun, PGK Soroti Keberhasilan Pemerintah Foto: Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) gelar diskusi. (Nur Azizah/detikcom)
Jakarta - Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) menggelar diskusi publik bertema 'Refleksi Akhir Tahun 2018: Memperteguh Komitmen Kebangsaan di Tahun Politik'. PGK menyoroti keberhasilan pemerintah sepanjang tahun 2018.

"Di bidang ekonomi, kita layak memberi apresiasi atas keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam menjaga pertumbuhan dan pemerataan pembangunan. Berbagai proyek infrastruktur strategis terutama di luar Jawa satu demi satu sudah dapat dinikmati masyarakat," kata Ketua Umum DPP PGK Bursah Zanubi di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Minggu (30/12/2018).

Bursah juga mengapresiasi pemerintah yang mengambil alih Blok Rokan dan Blok Mahamam serta menguasai 51,2 persen saham PT Freeport. Tidak hanya itu, turunnya angka kemiskinan di Indonesia juga menjadi sorotan PGK.

"Angka kemiskinan terus turun hingga 9,82 persen atau terendah sepanjang sejarah Indonesia, tingkat pengangguran terbuka dan ketimpangan pendapatan juga dapat ditekan. Secara umum kesejahteraan masyarakat meningkat seiring dengan semakin baiknya pelayanan kesehatan, akses pendidikan, dan daya beli masyarakat," katanya.


Bursah juga mengaku bangga dengan kesuksesan pemerintah menyelenggarakan Asian Games dan Para Games 2018 serta IMF-World Bank Meeting di Bali. Meskipun demikian, menurut Bursah, dengan semua pencapaian tersebut Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan.

Misalnya, kata Bursah, perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2018 menghadapi gejolak dan tantangan yang tidak ringan akibat depresiasi nilai rupiah serta turunnya harga sejumlah komoditas ekspor di tengah perang dagang AS Vs China. Sekalipun Pemerintah bisa menekan angka kemiskinan hingga 9,82 persen, kesenjangan ekonomi tetap menjadi tantangan besar bangsa Indonesia.

"Indeks GINI kita masih berkisar 0,39, laporan Bank Dunia 2015 menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dinikmati 20 persen kelompok kaya, dan jika diperas Iagi kekayaan itu menumpuk di segelintir kecil orang-orang terkaya. Majalah Forbes melansir 50 orang terkaya Indonesia tahun 2018 dengan total kekayaan Rp1.870 triliun," ungkap Bursah.

"Di sisi lain ada lapisan besar masyarakat yang sulit mengakses pekerjaan dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Korupsi juga masih menjadi masalah akut, tercermin dari banyaknya OTT yang dilakukan KPK terhadap kepala daerah, hakim, hingga anggota DPR RI," imbuhnya.


Tidak ketinggalan, Bursah bangga dengan sinergitas TNI-Polri yang berhasil menjaga keamanan dalam berbagai aspek, dari pilkada hingga mudik lebaran. "Di bidang keamanan kita bangga melihat profesionalisme dan soliditas TNI-Polri dalam melakukan pengamanan arus mudik lebaran, menindak para pelaku teror bom di beberapa kota pada bulan Mei 2018, serta dalam melakukan pengamanan Pilkada di 171 daerah yang dilaksanakan serentak pada 27 Juni 2018," tutur Bursah.

Lebih lanjut, Bursah mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperteguh komitmen kebangsaan di tahun politik ini. Menurutnya, Pemilu 2019 adalah kontestasi menuju Indonesia yang lebih baik, bukan memecah belah.

"Kampanye Pemilu semestinya merupakan wahana pendidikan politik, adu program berbasis data sebagai pertimbangan masyarakat untuk menentukan pilihan. Tapi faktanya, sepanjang tahun politik ini, kita menyaksikan narasi kampanye dipenuhi ujaran kebencian, hoax, fitnah, kampanye hitam, dan perdebatan minim data. Narasi negatif itu tersebar secara massif melalui media sosial," katanya.

Diskusi Refleksi Akhir Tahun ini juga dihadiri oleh Kepala Satgas Nusantara Irjen Gatot Edi, anggota DPR RI Maruarar Sirait, politisi NasDem Effendi Choiri, hingga Wakil Ketua KEIN Arif Budimantha.
(azr/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed