DetikNews
Kamis 22 November 2018, 17:32 WIB

Polri: Eko Penyerang Polisi di Lamongan Orang Baru di JAD Jatim

Audrey Santoso - detikNews
Polri: Eko Penyerang Polisi di Lamongan Orang Baru di JAD Jatim Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Audrey Santoso/detikcom)
Jakarta - Eko, penyerang polisi di Pos Polantas Lamongan, disebut sebagai orang baru di kelompok radikal Jamaah Ansharut Daullah (JAD) Jawa Timur. Eko disebut berada dalam tahap memantapkan diri sebagai ekstremis.

"Dia kan orang baru (di kelompok JAD Jatim). Palagannya dia belum teruji istilahnya. Teruji palagannya itu pada saat menyerang dan ketangkap kemarin itu," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2018).


Dedi mengatakan pemahaman Eko tentang terorisme masih kurang. Karena itu, Eko disuruh berguru tentang jihad selepas dari Lapas Madiun.

"Dia pemahamannya masih kurang sekali. Belum bisa dia. Dia cuma disuruh-suruh berguru saja," tambah Dedi.

Dedi menjelaskan, setelah bebas sebagai warga binaan Lapas Madiun, Eko berkunjung ke lapas-lapas untuk menemui narapidana kasus terorisme. Saat bertemu itulah Eko diyakini terus dijejali paham radikal.

"Iya (Eko mengembangkan diri di jaringan JAD). Dia dipercaya (mampu melakukan serangan) karena dia kan mantan (polisi). Dia berhubungan dengan di lapas lain. Dia diajari lagi dari napiter di lapas lain," jelas Dedi.

"Dia didoktrin jihad, 'bahwa pemerintah thaghut, polisi thaghut, kalau kamu (Eko) sudah lepas dari polisi, berarti kamu kelompok kita, jaminannya surga. Kamu boleh menyerang thaghut dengan caramu,'" sambung Dedi menirukan cara-cara doktrinisasi kelompok teroris.


Dedi juga menerangkan Eko melakukan serangan atas dasar inisiatifnya sendiri karena didoktrin oleh para ekstremis. Polisi mengatakan Eko terdoktrin bahwa penyerangan tidak harus menggunakan bom.

"Inisiatif dia sendiri, tapi terinspirasi 'jihad yang dilakukan tidak harus menunggu kamu punya bom, kamu punya senjata, punya parang yang lancip, cukup dengan alat yang kamu miliki, bisa menyerang,'" terang Dedi.

"Kalau sudah terpapar seperti itu, kapan dia emosinya meletup, tekadnya bulat, langsung dia beraksi," imbuh Dedi.

Dedi mengatakan narapidana kasus teroris Wiliam Maksum-lah yang memaparkan paham radikal kepada Eko. "(Wiliam Maksum) gurunya itu, yang merekrut dia (Eko), yang mengajari dia tentang jihad," tutur Dedi.

Dedi menjelaskan Eko mendatangi napi teroris di empat lapas. Empat lapas itu adalah lapas di Madiun, Sidoarjo, Porong, dan Malang.

"Beberapa bulan terakhir setelah bebas, baru dia keliling. Jadi dia itu disuruh keliling untuk meyakinkan dia, betul-betul yakin, meningkatkan keyakinan dia. Ajaran di mereka (kelompok teroris) itu ajaran yang sifatnya absolut," tutur Dedi.



Saksikan juga video 'Penyerang Polisi di Lamongan Pernah Tewaskan Guru Ngaji':

[Gambas:Video 20detik]


Polri: Eko Penyerang Polisi di Lamongan Orang Baru di JAD Jatim

(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed