Pahit-Manis Mega-Prabowo

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 16 Nov 2018 08:52 WIB
Megawati dan Prabowo saat nonton pencak silat Asian Games 2018. (Foto: dok. Gerindra)
Jakarta - Perjalanan hubungan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui babak baru. Babak baru itu berawal saat Mega menyinggung Prabowo dalam sambutannya kala membuka sekolah partai untuk caleg PDIP.

Mega saat itu mengaku selama kampanye ini belum pernah mendengar apa saja program rival petahana Joko Widodo-Ma'ruf Amin itu. Dia juga menyinggung soal strategi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kerap disebut ditiru kubu Prabowo-Sandiaga.

"Saya bilang kenapa di pihak sana tidak juga mengatakan program saya adalah ini, saya belum pernah dengar lho, apa yang akan dilakukan, menjalankan program seperti apa saya ndak tahu," ujar Megawati di kantor DPP PDIP, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (15/11).



Hubungan Mega dengan Prabowo memang menarik. Kedua tokoh ini punya kisah lama bak kisah cinta yang kadang manis kadang pahit.

Pada 2009, Mega dan Prabowo pernah berduet di Pilpres 2009. Namun kala itu pasangan yang digaungkan sebagai Mega Pro ini hanya meraih 26,79 persen suara. Masih mengungguli duet JK-Wiranto (12,41%) tapi harus mengakui kemenangan telak SBY, yang mengamankan masa jabatan keduanya dengan satu putaran setelah mengantongi 60,80% suara.

Setelah keduanya kalah, mendekati Pilpres 2014, drama kekalahan di masa lalu mulai terungkap. Sejumlah elite PDIP menyebut kekalahan Mega-Prabowo kala itu gegara Ketum Gerindra tersebut tak mau mengeluarkan logistik, meski kekayaannya kala itu hampir Rp 2 triliun. Pernyataan ini terlontar kala itu karena Gerindra menagih komitmen Megawati mendukung Prabowo di Pilpres 2014 yang ternyata diingkari.

Mega dan Prabowo menandatangani perjanjian sebelum keduanya resmi maju di Pilpres 2009. Naskah yang dirumuskan di Batu Tulis, Bogor, itu berisi kesepakatan kedua pihak, yakni Megawati dan Prabowo. Dalam kesepakatan ini, Prabowo meminta agar diberi keleluasaan mengatur ekonomi Indonesia dan menunjuk 10 menteri terkait.



Sementara itu, Megawati juga menyatakan akan mendukung pencapresan Prabowo di Pilpres 2014. Namun janji tinggal janji, akhirnya Megawati tak mendukung Prabowo di Pilpres 2014. Nah hubungan PDIP-Gerindra pun merenggang, apalagi setelah Jokowi jadi presiden. Gerindra bersama PKS pun jadi 'sahabat' oposisi, bahkan keduanya selalu mengagungkan diri sebagai koalisi permanen.

'Drama panas' Pilpres 2014 ini sebenarnya sudah mulai mereda. Beberapa waktu lalu Prabowo sempat bertemu dengan Puan Maharani di tengah pembahasan Pilpres 2019.

Tak hanya itu, hubungan keduanya juga kembali menghangat kala Mega dan Prabowo bertemu di arena pencak silat saat Asian Games 2018 pada Agustus lalu. Pertemuan itu seolah menegaskan keduanya sudah melupakan perjanjian lama yang pernah menyakiti. Potret kebersamaan Mega-Prabowo ini pun kemudian membuat suasana politik sedikit sejuk di tengah panasnya Pilpres 2019.



Sayangnya, hangatnya hubungan keduanya tak berlangsung lama. Padahal, meski menyindir Prabowo yang disebut belum terdengar program-programnya, Mega juga menjelaskan hubungan dirinya dengan eks Danjen Kopassus itu.

Mega mengaku hubungannya dengan capres nomor urut 02 itu baik-baik saja. Meski tampak pasang-surut, Presiden RI ke-5 itu mengaku dia dan Prabowo tak memiliki masalah dan menuding faktor lingkungan eks Danjen Kopassus itulah yang menjadi sumbernya.

"Ndak pernah saya menghujat orang. Boleh cari di mana, ngomongin siapa-siapa, ndak. Sampai Pak Prabowo pun dengan saya hormat karena saya tidak pernah mengatakan hal-hal yang jelek. Pak Prabowo juga tidak pernah menjelekkan saya. Ndak pernah," kata Megawati di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2018).

"Kan kasihan ya. Kalau saya bilang, kasihan beliau. Kenapa orang di lingkungannya seperti begitu?" ujarnya.


Saksikan juga video 'Prabowo Janjikan Pertumbuhan Ekonomi RI 7-8%, Praktisi: Berat!':

[Gambas:Video 20detik]

(mae/imk)