KPK Sita Pabrik Aspal Rp 6 M Milik Bupati Lampung Selatan Nonaktif

Haris Fadhil - detikNews
Kamis, 15 Nov 2018 18:18 WIB
Bupati Lampung Selatan nonaktif Zainudin Hasan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - KPK kembali menyita sejumlah aset terkait kasus dugaan tindak pidana pencucian uang oleh Bupati Lampung Selatan nonaktif Zainudin Hasan. Aset yang disita adalah pabrik aspal PT Krakatau Karya Indonesia (KKI).

"KPK melakukan penyitaan tanah yang di atasnya berdiri perusahaan aspal Mix Plant PT Krakatau Karya Indonesia (KKI), yang berada di Desa Campang Tiga, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (15/11/2018).

Febri menyebut estimasi nilai pabrik dan tanah itu sekitar Rp 6 miliar. Meski telah disita KPK, pabrik itu masih beroperasi.

"Estimasi nilai sekitar Rp 6 miliar. Ini menambah deretan aset yang diduga milik ZH (Zainudin Hasan) dalam kasus TPPU," ucapnya.

"Pabrik itu masih beroperasi jadi penyitaan tidak menghentikan operasional pabrik. Nanti di akhir barulah dihitung keutungan pabrik tersebut apakah sebagain masuk jadi milik negara misalnya kalau divonis di pengadilan, dan seberapa besar operasional lainnya akan dihitung," sambung Febri.

Sebelumnya, KPK telah menyita beberapa bidang tanah, bangunan, hingga speedboat dalam kasus dugaan TPPU Zainudin Hasan. Sejumlah aset itu diduga disamarkan dengan nama keluarga Zainudin, seperti nama anaknya.
Zainudin, yang merupakan adik Ketua MPR Zulkifli Hasan, ditetapkan sebagai tersangka TPPU. Zainudin telah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap.

Dalam kasus suap, Zainudin diduga mendapatkan imbalan berupa fee proyek sebesar 10-17 persen di lingkungan Dinas PUPR Kabupaten Lampung Selatan.

Tersangka lain yang juga menyandang status tersangka adalah Gilang Ramadan dari CV 9 Naga, Agus Bhakti Nugroho selaku anggota DPRD Provinsi Lampung, dan Anjar Asmara selaku Kepala Dinas PUPR.

KPK juga menelusuri aliran duit Rp 57 miliar dalam kasus dugaan suap ke Zainudin. Duit itu diduga dari sejumlah proyek sejak 2016 hingga 2018.

(haf/dhn)