DetikNews
Kamis 15 November 2018, 08:26 WIB

Cerita Lie Terbang dari China untuk Menolong Korban Gempa Donggala

Jafar Bua - detikNews
Cerita Lie Terbang dari China untuk Menolong Korban Gempa Donggala Foto: Relawan dari China (jafar/detikcom)
Palu - Bencana di Sulawesi Tengah mengundang empati tak berhingga. Tak cuma dari Indonesia, bahkan mancanegara.

Gempa, tsunami dan lukuifaksi yang menghantam Palu, Sigi dan Donggala pada 28 September 2018 mengundang banyak simpati. Selain dari seantero daerah di Indonesia juga dunia internasional. Tak terkecuali dari China.

Selain dari Pemerintah Republik Rakyat China, bantuan-bantuan dari individu pun berdatangan. Salah seorang di antaranya adalah Li Feng Pippa (40).

Pippa memiliki kawan di Sirenja, Sulsel. Ia berusaha mengontaknya, tapi gempa bumi menghancurkan jaringan komunikasi.

Pada 1 Oktober 2018 pukul 01.39 WITa, Pippa mendapat kabar dari kawannya lewat WhatsApp. Isi Whatsappnya membuat bulu kuduk Pippa merinding:

"Rumah tidak bisa ditempati lagi jadi kami mengungsi di tempat adik yang tidak kena jalur lempengan. Sampai saat ini kamk tidur di alam terbuka. Jaringan sangat sulit hanya ada di PMI dan pusat tanggap darurat. Saat ini data sementara: korban meninggal yg ditemukan 740 orang, korban luka 632 orang, korban hilang 46 orang, korban tertimbun 140 orang, rumah rusak 65.713 unit, 500 kepala keluarga terisolasi, pengungsi 48.025 jiwa. Jika ada yang mau salurkan bantuan tolong bisa melalui pesawat Hercules atau lewat jalur Poso. Mohon doanya Pippa.

Pippa langsung membuat desisi. Pada 4 Oktober, Pippa tiba di Bandar Udara Mutiara SIS Aljufrie Palu, setelah melewati penerbangan 48 jam dari China Utara dengan sekali transit di Kuala Lumpur dan Jakarta.

"Saya mendarat di bandara darurat. Banyak fasilitas belum berfungsi. Dalam perjalanan saya juga mendapat kabar bahwa banyak tim penyelamat non-pemerintah, tim penyelamat milik Pemerintah China juga sudah standby di Bandara Beijing menunggu pemberangkatan ke Palu," tutur pria yang tahun ini memulai belajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Pippa berkisah pada malam 4 Oktober, penerbangan lebih dari 48 jam dari Cina Utara, dan ditransfer di Kuala Lumpur dan Jakarta. Pippa tiba di Bandara Palu di mana masih dalam keadaan darurat, banyak fasilitas yang masih belum berfungsi dengan baik.

Dalam perjalanan, ia mengetahui bahwa ada beberapa tim penyelamat non-pemerintah dalam perjalanan dari Tiongkok, tim penyelamat China, pemerintah China, juga stanby di bandara Beijing.

Berbekal petunjuk orang-orang China di Palu, Pippa bertandang ke Pantai Barat, Donggala. Ia mencari tahu keberadaan kawannya di Desa Tanjung Pandang, Kecamatan Sirenja. Ia mendapat kawannya mengungsi. Begitu pun warga desa lainnya.

Pippa kebingungan. Bagaimana ia bisa mendistribusikan bahan-bahan makanan ke banyak orang yang membutuhkan ini. Beruntung ia bertemu Jamaluddin, seorang anggota Polisi yang bertugas di sana.

"Saya kehilangan rumah karena gempa dan tsunami. Tapi saya tidak mungkin tinggalkan wilayah saya jauh-jauh karena saya bertugas di sini," kata Pippa mengulangi pengakuan Brigadir Polisi Kepala itu.

Pippa mengisahkan, polisi itu mengatur warganya. Dia juga mengatur pembagian bahan makanan yang masih ada

"Kalau masih ada sepiring nasi, kita utamakan dulu orang tua, perempuan dan anak-anak," kata Jamal pada Pippa.

Lelaki asal China Utara itu pun bergerak cepat. Ia menggalang bantuan dari pelbagai pihak. Utamanya dari warga China di tempat asalnya bahkan dari Malaysia dan Singapura.

Dalam dua minggu setelah gempa, Pippa mendistribusikan bantuan 2,4 ton beras, 400 boks mie instan, 300 potong kelambu, 113 potong peralatan perawatan kesehatan rumah, tenda, kotak sabun cuci. Selain itu adapula uang tunai sebesar Rp15 juta dari kantong Pippa sendiri ditambah dari lainnya sebesar Rp197 juta. Adapula bahan makanan lainnya senilai Rp82 juta.

Selama dua minggu pertama, warga berdiam di dalam gubuk seadanya. Belum ada tenda-tenda bantuan yang datang. Bagaimana privasi suami istri dan bagaimana pula kenyamanan anak-anak? Pippa kemudian berpikir keras lagi. Ia ingin warga bisa berdiam di tempat layak.

Dari pengalamanya menjadi relawan di pelbagai tempat, ia tahu standar minimum untuk tenda bantuan bencana PBB memerlukan 3,5 meter persegi ruang hidup per orang, serta privasi.

Ia lalu ingat, setelah gempabumi Wenchuan pada 2018, Pemerintah China memproduksi tenda-tenda bantuan bencana dalam jumlah besar. Untuk diketahui gempa Wenchuan menewaskan lebih dari 100 ribu orang.

"Saya pun bermohon dan berkirim surat elektronik ke organisasi-organisasi sosial di tempat asal saya sampai kemudian ada pemberitahuan bahwa tenda-tenda untuk warga korban bencana Pantai Barat sudah dikirim," tutur Pippa penuh semangat.

Akhirnya, warga pun bisa mendapatkan tempat tinggal nyaman.


Saksikan juga video 'IMF ke Korban Gempa: Kami Berdiri Bersama Anda':

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed