DetikNews
Sabtu 22 September 2018, 08:14 WIB

Wawancara Lengkap dengan Ratna Sarumpaet soal Isu Duit Raja Rp 23 T

Danu Damarjati - detikNews
Wawancara Lengkap dengan Ratna Sarumpaet soal Isu Duit Raja Rp 23 T Ratna Sarumpaet (Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Aktivis Ratna Sarumpaet yakin pihak pemerintahan Presiden Jokowi memblokir duit para raja untuk Papua sebesar Rp 23 triliun. Dia menyebut World Bank, The Fed, hingga menantang Luhut Pandjaitan agar menggugat dirinya.

Itu semua disebut Ratna dalam wawancara via telepon dengan detikcom, Jumat (21/9/2018). Dia meluruskan kontroversi yang menyeruak selama ini tentang duit Rp 23 triliun.



Duit itu, ujarnya, berasal dari tujuh keturunan para raja Nusantara. Duit itu disimpan di Bank UBS, ditransfer ke tiga bank di Indonesia, dan dilaporkan oleh Bank Indonesia ke Bank Dunia. Kemudian duit itu dinyatakannya hilang. Begitulah cerita Ratna Sarumpaet.

Kemenkeu sudah menjawab tudingan Ratna. Kemenkeu sudah mengecek ke World Bank, tudingan Ratna tak ada jejaknya.

"Kami juga sudah bertanya kepada pihak World Bank, mereka tidak berhubungan dengan rekening perseorangan/pribadi. Jadi yang dinyatakan oleh Ratna Sarumpaet adalah tidak benar," kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Nufransa Wira Sakti, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa malam (18/9/2018).

Berikut ini wawancara lengkap dengan Ratna Sarumpaet. Kalimat yang ditulis dengan cetak tebal adalah pertanyaan detikcom. Kalimat jawaban ditulis dengan huruf miring.



Bank Dunia tidak mentransfer uang dari pihaknya ke orang secara pribadi, bagaimana menurut Anda?

Memang bukan. Itu uang kan ditransfer ke tempat lain, cuma laporannya ke World Bank. World Bank itu yang memberikan laporan, karena dana itu disimpannya di UBS, Switzerland.

Jadi bukan berarti mereka (Bank Dunia) yang transfer. Jadi kita tidak pernah mengatakan duit itu ditransfer dari Bank Dunia. Itu tidak pernah terucap.

Dalam keterangan pihak Anda sebelumnya, disebut ada tiga instansi, yakni BNI, BI, dan World Bank. Bagaimana peran masing-masing lembaga itu dalam kasus Rp 23 triliun?

BNI itu adalah tempat ke mana transfer itu pernah ditujukan, tapi ditarik kembali hanya dalam waktu satu hari.

Siapa yang menarik duit itu dari bank tujuan transfer?

Ya siapa, nggak tahu saya. Itu yang harus dibuktikan pemerintah kalau itu bukan dia (yang menarik duit Rp 23 triliun itu dari bank).

Kedua, itu (Rp 23 triliun) ditransfer ke BNI, BCA, sama Bank Mandiri.

Apa hubungannya dengan BI? BI itu sudah melaporkan ke Bank Dunia bahwa transfer itu sudah terjadi. Itu saya nggak tahu kenapa mereka harus laporan begitu ke Bank Dunia. Tetapi dokumen yang kita terima yang membuktikan bahwa sudah ada pernyataan Direktur Gubernur Bank Indonesia ke Bank Dunia yang menyatakan bahwa uang itu sudah tertransfer ke Saudara Ruben PS Marey (salah satu orang yang melapor ke Ratna), itu menjadi bukti janggal. Dana sudah tertransfer, sementara saat kita cek di bank (BNI, BCA, dan Mandiri), di bank sudah tidak ada duitnya.

Jadi kaitannya dengan Bank Dunia adalah sebagai tempat pelaporan transaksi internasional, bahwa telah terjadi transaksi itu. Jadi kalau BI mengatakan sudah ditransfer, harusnya itu ada di banknya Ruben.

Dan sampai sekarang pihak Istana itu masih nego. Aku tahu, kok. Nego dengan orang kitalah, dengan orang-orang korban itu.

Apa kepentingan pemerintah untuk bernegosiasi dengan pihak Anda?

Ya salah satu kepentingannya supaya Ratna Sarumpaet tidak terlibat. Ada banyak yang melaporkan ke saya, tapi yang saya munculkan hanya satu.

BI sudah melaporkan ke World Bank bahwa sudah terjadi transaksi. Itu laporan doang. Menurut yang saya dengar, Bank Dunia sudah menegur pemerintah, dalam hal ini Sri Mulyani.

Saya juga menghubungi pihak internasional, dong.

Siapa pihak internasional yang Anda hubungi?

Ya semua, The Fed.

Anda menghubungi pihak The Fed? Siapa pihak The Fed yang Anda hubungi?

Ya, ya. Dan mereka akan kirim surat ke saya. Tapi aku nggak mau membicarakan sesuatu yang belum ada di tangan saya.

Mana buktinya bahwa duit Rp 23 triliun itu benar ada, dan laporan BI ke Bank Dunia itu benar terjadi?

Kalau mau cari buktinya, semua buktinya sudah di Komisi XI DPR. Kami sudah meminta untuk dipanggil itu menteri.

Soal bukti transfer ada apa nggak, bukti laporan BI kepada World Bank ada nggak, itu ada. Saya ini bukan anak kemarin sore. Saya ini aktivis yang saya rasa seluruh Indonesia tahu kredibilitas saya.

Bukti transfer itu ada 18 sampai 20 halaman. Juga ada bukti laporan itu (BI ke World Bank).



Dari mana asal dana Rp 23 triliun itu?

Dana itu, jadi mereka ini ada tujuh orang yang melapor sama saya. Tujuh orang ini adalah keturunan raja-raja Nusantara. Nama-nama mereka terdaftar di World Bank sebagai penguasa atau yang berhak dan berkewajiban untuk melindungi uang ini dan menggunakannya untuk kebaikan Indonesia.

Nasihat saya kepada pemerintah, bukalah blokirnya. Bersikap jujur saja, nggak usahlah menekan-nekan, bujuk sana dan bujuk sini. Mereka (yang berusaha dibujuk pemerintah) sudah di bawah lindungan saya.

Jadi, duit Rp 23 T itu adalah dari pihak raja-raja Nusantara?

Itu adalah dana dari raja-raja Nusantara. Dan tujuh orang itu adalah keturunan dari orang-orang itu. Itu makanya dana itu dikirim ke Papua untuk dana swadaya.

Siapa tujuh orang keturunan raja-raja Nusantara itu?

Nggak bisa. Mereka nggak mau namanya dikeluarkan. Yang saya keluarkan hanya satu nama (Ruben).



Ada juga kasus penipuan mencatut World Bank dengan iming-iming Rp 15 T, kasasi pelakunya sudah ditolak MA. Apakah isu soal Rp 23 triliun itu juga penipuan?

Gini saja. Ini jumlah duit besar, lembaga-lembaganya resmi. Kalau ini memang penipuan, tinggal saya saja yang digugat pencemaran nama baik. Halah, susah amat sih. Ya kan? Suruh Luhut (Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan) gugat gue dong. Jangan berkoar-koar saja dia.

Bagaimana perkembangan kasus dana swadaya untuk Papua senilai Rp 23 triliun itu sekarang?

Kita sekarang lagi nunggu jawaban tanggal penjadwalannya DPR (pertemuan dengan Komisi XI)

Anda sudah hubungi pengganti Sri Mulyani di Bank Dunia juga, ternyata pengganti Sri Mulyani itu orang Amerika Serikat.

Aku nggak ikut masuk ke situ ya.


Siapa pihak World Bank yang Anda hubungi?

Bukan saya yang menghubungi, tapi tim saya. Dan pemerintah nggak usah ngeles dengan diperlebar ke situ. Kalau mereka (pemerintah) merasa nggak salah, semua ini bisa dihentikan dengan mengajukan gugatan.

Kalau mereka nggak berani membuat gugatan, ibarat air ledeng disumpal sama dia, lepaskanlah sumpal ledengnya.



Simak Juga 'Eksklusif Ratna Sarumpaet Heboh #2019GantiPresiden':

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed