Tim Ekspedisi APPSI Gali Kekayaan Budaya Melayu di Kepri

Suci Rizky Lestari - detikNews
Minggu, 16 Sep 2018 20:30 WIB
Foto: Dok. APPSI
Tanjung Pinang - Tim Ekspedisi 34 Gubernur dari Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) tiba di Provinsi ke 4 dari rute ekspedisi yakni Kepulauan Riau. Di provinsi tersebut, APPSI mengeksplorasi kekayaan budaya melayu di provinsi tersebut.

Tim ekspedisi yang diutus oleh Ketua APPSI Soekarwo ini, melakukan kunjungan ke Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Di Pulau tersebut berdiri salah satu kesultanan terbesar Melayu yakni kesultanan Riau Lingga. Di antara warisan budaya Melayu yang monumental berasal dari Pulau Penyengat adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji yang merupakan pujangga Kesultanan Riau Lingga.

Di Pulau Penyengat pula disemayamkan sastrawan Melayu Raja Ali Haji, yang karyanya melegenda di tanah Melayu dari Indonesia hingga Malaysia. Selain itu di pulau tersebut juga terdapat Makam Raja Haji Fisabilillah yang gugur dalam pertempuran laut melawan Belanda di Selat Malaka. Peninggalan lain dari Kesultanan Riau Lingga seperti istana dan masjid kesultanan juga masih berdiri megah hingga hari ini.

Sejarawan dari Pulau Penyengat Aswandi Syahri mengungkapkan bahwa Kesultanan Riau Lingga berkuasa tak hanya di wilayah Riau tapi juga hingga ke Malaysia.

"Kesultanan Johor dan Kesultanan Selangor, pendirinya merupakan adik dari Sultan Riau Lingga. Maka dari itu tak heran, tiap tahun rutin dari Kesultanan di Malaysia rutin berziarah ke Pulau penyengat, untuk menziarahi nenek moyang mereka," jelas Aswandi kepada Tim Ekspedisi, Minggu (16/9/2018).


Selepas dari Pulau Penyengat, Tim Ekspedisi APPSI berlanjut menikmati Kopi Sekanak khas Melayu yang dahulu menjadi hidangan para Raja. Kopi Sekanak merupakan kopi olahan dari biji robusta terbaik yang direbus bersama 9 varian rempah-rempah.

Di Kedai Kopi yang didirikan oleh Sastrawan melayu Kontemporer Teja Alhabd ini, tim ekspedisi disajikan tiga varian dari kopi Sekanak yakni kopi O, kopi dengan susu kambing, juga kopi dengan madu dan kayu manis. Cara penyajian kopi Sekanak cukup rumit dan mengandung filosofi dari tiap tradisi penyajiannya, hampir sama seperti upacara minum teh kekaisaran di Jepang.

Setiap tahap penyajian kopinya menjelaskan ragam prinsip orang-orang Melayu, misalkan ketika pertama mengaduk harus perlahan seperti mengetuk pintu menandakan adab dalam bertamu.

Dalam tahap-tahap penyajian berikutnya menjadi lebih luwes, menandakan setelah dipersilahkan masuk ke dalam rumah masyarakat Melayu maka barulah dipersilahkan untuk mengetahui isi dalam rumah yang ditandai dengan mengaduk kopi sebagaimana biasanya.

Selain Kopi Sekanak, dihidangkan pula air rebusan kayu sepang yang disebut air Sri Delima. Menurut Teja Alhabd, konon air Sri Delima memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.


"Kalau untuk bagian luar dapat menyembuhkan luka, sementara di bagian dalam dapat menetralisir racun-racun penyebab penyakit," ungkap Teja.

Sebelum mengeksplorasi Kepulauan Riau, Tim Ekspedisi APPSI disambut oleh Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Kepri adalah Provinsi ke-4 dari Ekspedisi 34 Gubernur, dan ekspedisi masih akan berlanjut dalam beberapa bulan kedepan hingga ke Papua dan finis di Kantor Gubernur Jawa Timur.

Baca selengkapnya ekspedisi APPSI di link ini.

(idr/idr)