"Waspadai potensi lebat disertai kilat (petir) dan angin kencang di sekitar wilayah Indonesia dalam periode 3 hari ke depan, antara Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (4/9/2018).
"Untuk bulan Oktober, masyarakat pesisir dan nelayan di sekitar Laut Natuna utara, pesisir Bengkulu, Laut Jawa bagian tengah, Laut Arafuru, perairan Kepulauan Sermata-Kepulauan Tanimbar harap mewaspadai gelombang setinggi 1,25-2,5 m, sedangkan potensi gelombang setinggi 2.5-4 m berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Sumatera, perairan selatan Jawa-Sumba, Samudra Hindia selatan Jawa-NTT," imbaunya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut pun diperkuat adanya pelemahan pusat tekanan tinggi di wilayah Australia yang mengakibatkan dorongan massa udara kering dan dingin dari Australia semakin lemah.
"Kondisi ini menyebabkan terjadinya potensi pertumbuhan awan hujan semakin meningkat. Dalam sepekan terakhir tercatat kejadian hujan lebat di wilayah Riau, Bengkulu, Kepri, Jabodetabek, Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Maluku, dan Papua," jelas Dwikorita.
Sedangkan El Nino, menurut Dwikorita, meskipun akan hidup lagi pada September 2018, kondisinya melemah.
"El Nino lemah ditandai oleh lebih panasnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah atau dikenal dengan indeks ENSO positif. Kondisi ini akan berdampak langsung pada peralihan sirkulasi angin timuran menjadi angin baratan akan sedikit terlambat. Kondisi inilah yang secara tidak langsung menyebabkan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia menjadi terlambat dari biasanya atau klimatologisnya," tutur Dwikorita. (rna/hri)