"Kalau gelombang tinggi ya saya istirahat. Tidak keluar (melaut). Cuacanya memang buruk," ujar Robi (33), nelayan tradisional ditemui detikcom di tepi kolam labuh Pantai Tamperan, Kamis (30/8/2018) siang.
Hingga kini, lanjut warga Lingkungan Teleng tersebut, cuaca di perairan belum menentu. Memang ada sebagian yang nekat melaut hingga jarak 17 mil dari bibir pantai untuk menangkap ikan tongkol. Hanya saja, langkah itu tergolong berbahaya.
"Nelayan sini menyebutnya Musim Baratan. Jadi anginnya kencang sekali," imbuhnya. "Ya harus sabar menunggu sampai cuaca bagus, baru melaut lagi," kata pria yang mengaku jika menjadi nelayan merupakan pekerjaan satu-satunya.
Secara Terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono membenarkan potensi cuaca buruk hingga awal September. Ini mengacu peringatan resmi BMKG.
Karenanya, lembaga yang menangani kebencanaan itu mengimbau nelayan meningkatkan kehati-hatian. Terlebih, perairan selatan Pacitan memiliki karakter unik. Pagi hari gelombang tampak normal, namun siang harinya kondisi cuaca dapat berubah ekstrim.
"Mohon teman-teman yang memang bekerja di laut khususnya nelayan agar lebih hati-hati lagi. Kalaupun harus melaut, pastikan melengkapi diri dengan alat keselamatan," ucapnya dihubungi detikcom. (fat/fat)