DetikNews
Kamis 09 Agustus 2018, 20:34 WIB

Ma'ruf Amin Bicara soal Ekonomi Keumatan hingga Penegakan Hukum

Peti - detikNews
Maruf Amin Bicara soal Ekonomi Keumatan hingga Penegakan Hukum KH Ma'ruf Amin di PBNU (Peti/detikcom)
Jakarta - Ketum MUI Ma'ruf Amin baru saja dideklarasikan sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 2019. Ma'ruf memperkenalkan soal arus baru ekonomi Indonesia, yaitu ekonomi keumatan. Seperti apa?

"Secara ekonomi, ekonomi yang saya bangun ekonomi keumatan, yaitu arus baru ekonomi Indonesia, pemberdayaan ekonomi umat. Kenapa arus baru, karena arus lama itu membentuk konglomerat menggunakan teori trickle down effect, ternyata nggak netes-netes. Ini yang kita jadikan sebagai arus baru," kata Ma'ruf Amin saat jumpa pers di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2017).


Ma'ruf menyebut sistem saat ini membuat tidak meratanya perekonomian, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Dengan semangat ekonomi keumatan, dia optimistis ada jembatan antara si kaya dan si miskin.

"Kemudian lahir program redistribusi aset dan kemudian kemitraan, konglomerat bermitra dengan usaha-usaha masyarakat, dengan koperasi-koperasi masyarakat. Dari hulu sampai hilir, nanti yang menyiapkan tanamannya umat yang nanam, apa itu singkong, jagung, yang menjadi komoditasnya. Yang mendistribusikannya juga umat lagi. Ada kemitraan antara yang kuat dan yang lemah," paparnya.

Dia mengingatkan Indonesia adalah negara yang kaya sehingga jangan sampai bergantung pada bahan impor. Dengan semangat itulah dia mengusulkan untuk memperkuat ekonomi keumatan.

"Satu hal, tidak boleh negara ini tergantung pangannya ke luar negeri. Oleh karena itu, semua kita harus bisa memenuhi, tidak boleh ada impor, ada impor beras, jagung, lahannya cukup, SDA cukup, SDM cukup. Kenapa kita tidak mampu? La, ini yang harus kita perkuat," tegasnya.

"Di dalam industrinya jangan juga kita jadi negara pengimpor, tapi juga harus jadi negara pengekspor tapi dengan menggunakan produk-produk yang kita bisa ekspor, dengan melakukan teknologi tinggi yang kita bisa ambil dari berbagai negara. Artinya, Indonesia menjadi Indonesia yang berjaya," sambungnya.


Rais Am PBNU ini juga berbicara tentang penguatan karakter bangsa dan penegakan hukum. Dia yakin dengan penguatan karakter, kasus pelanggaran hukum bakal berkurang.

"Pembangunan karakter dan penegakan hukum saling terkait. Lalu pembangunan karakter berhasil, maka penegakan hukum sedikit. Kalau pelanggaran hukumnya banyak, berarti pembangunan karakter tidak berhasil," ucapnya.

Ma'ruf juga memuji perkembangan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Dia yakin, jika Jokowi diberi kesempatan selama dua periode, pembangunan Indonesia semakin maju.

"Mudah-mudhan benar-benar bisa terpilih, bisa membangun negara ini lebih kuat dan Pak Jokowi secara efektif kerjanya cuma 3 tahun. Efektif 3 tahun. Hasil-hasilnya luar biasa. Karena itu, kalau besok lagi, langsung 5 tahun. Saya kira hasilnya akan luar biasa," ujarnya.




Tonton juga 'Surprise! Netizen Terkejut Ma'ruf Amin Jadi Cawapres Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]


(ams/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed