Laporan dari Mekah

Menanti Habib Bugak Lain yang Wakafkan Harta untuk Jemaah Haji

Fajar Pratama - detikNews
Selasa, 07 Agu 2018 03:39 WIB
Foto: Pembagian dana wakaf dari Habib Bugak Al Asyi/Fajar Pratama detikcom
Mekah - Ikrar wakaf Habib Bugak Al Asyi dan kawan-kawan 2 abad lalu untuk mewakafkan harta, membuat jemaah haji asal Aceh masih bisa menikmati dana wakaf itu sampai saat ini. Sosok seperti habib Bugak lainnya dinanti.

Sejak tahun 2008, jemaah Aceh mendapat kucuran dana wakaf Habib Bugak Asyi yang kini dikenal sebagai Wakaf Baitul Asyi (Wakaf Rumah Aceh). Hal ini bermula pada harta yang diwakafkan oleh seorang hartawan dan dermawan asal Aceh, Habib Abdurrahman (Habib Bugak Asyi) pada awal 1800-an. Giliran pertama, 393 jemaah dari kloter BTJ-001 masing-masing mendapat 1.200 SAR.

Adapun total dana wakaf yang dikeluarkan tahun ini sebesar lebih dari Rp 20 milyar. Distribusi dana wakaf ini akan terus dilakukan hingga Kamis (16/8) mendatang.

Petugas wakaf Habib Bugak, Jamaluddin Affan, menyatakan sudah menjadi kewajiban moral bagi jemaah untuk meneladani Habib Bugak.

"Beliau telah mewakafkan rumah dan tanah sejak dua ratus tahun lalu dan sampai sekarang masih dapat kita nikmati manfaatnya. Apa yang dilakukan beliau harus menjadi teladan bagi kita semua," ujar Jamal di Wafaa Al Ehsan Hotel, Misfalah, Mekah, Senin (6/8/2018).

Sementara nadzir Wakaf Baitul Asyi, Syaikh Abdullatif Baltho, mengingatkan kepada segenap jemaah agar selalu menyibukkan diri beribadah kepada Allah. "Anda semua telah jauh-jauh datang kemari, ke tanah suci yang sangat dimuliakan Allah maka jangan sampai melewatkan satu detik pun tanpa beribadah kepada Allah," katanya.

Syaikh Abdullatif juga berpesan, sekiranya mampu untuk terus melakukan thawaf maka jemaah diminta melaksanakannya. "Kalau mampu berthawaf, lakukan karena ini hanya bisa dikerjakan di Makkah al Mukarramah," imbuhnya.



Syaikh juga turut mendoakan jemaah Aceh yang melakukan haji bisa mendapatkan predikat mabrur.

Siapakah Habib Bugak Asy? Berdasarkan berbagai literatur, Habib Abdurrahman berasal dari daerah Bugak, Peusangan, Matang Glumpangdua, Kabupaten Bireuen. Di hadapan Mahkamah Syaririyah Mekah, dia mewakafkan tanah di dekat Masjidil Haram untuk penginapan jemaah haji Aceh atau orang Aceh yang menetap di Mekah.

Saat Masjidil Haram diperluas, tanah wakaf kena dampaknya. Oleh nadzir (pengelola) wakaf, uang ganti rugi digunakan membeli dua bidang tanah di kawasan yang berjarak 500-an meter dari Masjidil Haram. Tanah itu dibangun hotel oleh pengusaha dengan sistem bagi hasil. Dari situ lah, 'bonus' untuk jemaah Aceh mengalir tiap musim haji.

Syaikh Abdulatif yang ikut membagikan uang mengatakan, dulu tanah wakaf hanya jadi tempat penginapan sederhana. Kini sudah jadi hotel. Jadi, keuntungan bisa dibagikan ke jemaah Aceh.
(fjp/gbr)