DetikNews
Jumat 03 Agustus 2018, 21:56 WIB

Kerja Sama, RI-Selandia Baru Serius Perangi Sampah di Laut

Indra Komara - detikNews
Kerja Sama, RI-Selandia Baru Serius Perangi Sampah di Laut Foto: Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi (Indra-detikcom)
Jakarta - Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi mengadakan pertemuan ke-16 dengan negara-negara South West Pacific Dialogue (SWPD). Pertemuan ini masih dalam rangka meeting menteri luar negeri ASEAN ke-51 di Singapura Expo.

Negara yang tergabung dalam forum SWPD yakni Australia, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Selandia Baru, dan Timor Leste. Di hadapan menlu 5 negara tersebut, Retno membahas berabagai isu. Salah satunya yakni kerja sama dengan Selandia Baru dalam memerangi sampah plastik di laut.

"Kita bahas mengenai marine pollution, ada satu hal yang disampaikan Indonesia yaitu memerangi marine plastic pollution, Indonesia berkolaborasi dengan New Zealand, satu kita men-ghost converence tahun lalu, dan satu ladi dalam kontek EAS statement untuk memerangi marine plastik. Dari situ kelihatan komitmen Indonesia di bidang perangi sampah plastik," kata Retno di ruang miting di Singapura Expo, Jumat (3/8/2018).


Pada kesempatan itu, Retno juga menekankan pentingnya konektifitas antara 6 negara ini. Beberapa isu yang dibahas selain dengan Selandia Baru, yakni dengan Filipina terkait jalur kapal Ro-Ro.

"Indonesia menyampaikan beberapa proyek yang terkait dengan masalah konektifiti Roll-on/roll-off (Ro-Ro) antara Indonesia-Filipina. Kemudian konstruksi pembangunan jaringan Trans Papua sampai perbatansan Papua dan Papua Nugini, kemudian rencana membangun flight dari Monhagen ke Jayapura," terang Retno.


Retno memaparkan konektifiti antar 6 negara ini. Menurutnya dengan terhubungnya negara-negara SWPD akan membantu kerjasama ekonomi antar negara tersebut.

"Konektifiti ini sangat penting karena kalau tidak, antara bagian timur Indonesia ini akan menghambat kerjasama ekonomi antara wilayah yang sebenarnya sangat berdekatan. Tapi karena konektifiti tak baik, maka mereka harus melalui capital dan akan lama," katanya.
(idn/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed