Penjelasan Polri soal Penanganan Kasus Korban Perkosaan Berujung Bui

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 01 Agu 2018 17:36 WIB
Foto: Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal. (Istimewa)
Jakarta - Polisi menyatakan korban perkosaan yang melakukan aborsi di Jambi, diproses hukum karena dinilai telah menghilangkan nyawa. Atas dasar itu, polisi menuturkan hukum harus ditegakkan.

"Yang jadi masalah kenapa korban pemerkosaan dihukum? Nah ada suatu pandangan dari penyidik bahwa fakta hukumnya itu korban melakukan aborsi. Itu kan menghilangkan nyawa juga. Hukum harus tegak. Tetapi ada lex specialis karena masih di bawah umur," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/8/2018).


Iqbal menjelaskan tindakan polisi terhadap si korban yang juga pelaku aborsi sudah simultan dengan jaksa dan hakim.

"Sekarang proses hukumnya sebenarnya sudah vonis kan? Artinya criminal justice system yang ada di Jambi itu sudah melakukan proses hukum ini dengan simultan. Polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan, terus dikirim ke penuntut umum, penuntut umum menganalisa dan memastikan bahwa berkas lengkap dan dituntut di pengadilan dan vonis," ujar dia.

Ditanyai mengenai undang-undang yang mengatur tindakan aborsi itu legal, Iqbal menafsirkan aborsi dapat dilakukan jika kandungan mengancam si ibu.

"Itu darurat apabila tidak diaborsi, dapat menghilangkan nyawa ibunya, atas dasar kesehatan. Misal si A diperkosa dan tidak di bawah umur, dia tidak bisa lakukan aborsi," tutur Iqbal.

"Saya sampaikan bahwa penegakan hukum prinsipnya keadilan ada penyelesaian di luar hukum antara lain ada sanksi sosial, duduk bersama dan tidak ada keberatan. Tapi tentang menghilangkan nyawa atau aborsi kita pahami bersama, apakah itu dilegalkan?" sambung dia.


Terkait proses hukum terhadap ibu korban yang masih berjalan di kepolisian setempat, Iqbal berharap penyidik melakukan fungsi pengayoman dan memakai hati nurani.

"Kita akan cek (proses hukum terhadap ibu korban) dan saya minta polisi di sana harus tampil bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi pengayom masyarakat. Ada hati nuran yang dikedepankan," tutur Iqbal.

Kasus bermula saat si kakak memperkosa adiknya pada September 2017. Pemicunya, si kakak menonton film porno. Si kakak usianya 17 tahun, si adik usianya 15 tahun. Pada 19 Juli 2018, PN Muara Bulian menjatuhkan hukuman:

1. Kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja.
2. Adik dihukum 6 bulan penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan.




Tonton juga 'Pemerkosaan Gadis 7 Tahun Berujung Demo Besar-besaran di Pakistan':

[Gambas:Video 20detik]



Penjelasan Polri soal Penanganan Kasus Korban Perkosaan Berujung Bui
(aud/idh)