DetikNews
Jumat 20 Juli 2018, 07:29 WIB

Di Arafah, Ulama Jawa Gelar Selamatan Kematian Istri Sultan HB I

Aryo Bhawono - detikNews
Di Arafah, Ulama Jawa Gelar Selamatan Kematian Istri Sultan HB I Foto: ilustrator: Fuad Hasyim/detikcom
Jakarta -

Perjalanan haji pada 1806 penuh dengan rintangan. Blokade Inggris atas armada Belanda membuat beberapa perjalanan haji dari Nusantara terpaksa dibatalkan. Selain itu tersiar kabar kelompok Wahabi di Arab Saudi mulai menghancurkan makam Nabi Muhammad.

Beratnya perjalanan haji ini dirasakan oleh sembilan ulama yang dikirimkan oleh Sultan Hamengkubuwono II pada 12 Juli 1805. Perjalanan mereka terhambat sejak menginjak Batavia. Peter Carey membubuhkan catatan kaki dalam bukunya Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, seluruh rombongan tertahan di Batavia hingga Januari 1806.

Kabar blokade Inggris membuat kapal-kapal Belanda tak berani mengangkat sauh. Kala itu Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda) bersikukuh memberangkatkan mereka dengan kapal Belanda. Orang-orang Belanda tak ingin para ulama ini bergaul dengan pedagang lokal jika menggunakan kapal pribumi.

"Mereka masih di Batavia pada Januari 1806 dan tujuh orang diantaranya minta diijinkan kembali ke Yogyakarta karena mendengar bahwa makam Nabi telah dihancurkan oleh golongan Wahabi," tulis Carey.

Pada tahun tersebut Bani Saud telah menguasai dua tanah suci. Mereka menghancurkan pemakaman di Mekkah dan Madinah. Makam yang dihancurkan adalah milik Zaid bin Al Khattab, salah seorang sahabat nabi. Tetapi makam Nabi Muhammad sendiri tak dihancurkan.

Dua ulama Mataram yang tersisa dan beberapa pengiring tetap berangkat di tanah suci menggunakan kapal layar dari Tegal, menggunakan perahu Arab. Mereka berhasil mendarat selamat di Jeddah dan melanjutkan perjalanan ke Mekkah.

Tiba di tanah suci mereka-pun menggelar selamatan peringatan seribu hari wafatnya Ratu Ageng Tegalrejo, permaisuri Sultan Hamengkubuwono I. Upacara ini dilakukan di Padang Arafah, tempat yang dianggap pas dengan ongkos yang tersisa.

"Ongkos upacara itu sebagian ditanggung oleh Ratu Kedaton dan perempuan lain anggota Keraton Yogyakarta," lanjut Carey.

Perjalanan dua ulama Jawa ini tergolong mulus. Pada Juni 1811, serombongan santri berjumlah 24 orang meminta izin kepada Belanda untuk menunaikan haji. Permohonan ini tak dikabulkan karena blokade Inggris dan ancaman penyerangan.

Apalagi kelompok Wahabi sendiri semakin kuat berkuasa di dua tanah suci, Mekkah dan Madinah. Mereka menolak berbagai acara yang dianggap syirik, termasuk peringatan kematian dan hari lahir. Tetapi dua ulama Jawa itu bisa menggelarnya di atas padang Arafat.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed