DetikNews
Jumat 08 Juni 2018, 13:17 WIB

Pupus Harapan Fredrich Sungkem ke Ibu Saat Lebaran

Haris Fadhil - detikNews
Pupus Harapan Fredrich Sungkem ke Ibu Saat Lebaran Fredrich Yunadi (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Jaksa pada KPK memprotes Fredrich Yunadi. Penyebabnya, Fredrich mengucapkan sumpah terkait orang tua para jaksa.

Awalnya, Fredrich meminta ke hakim agar diizinkan ke luar rutan untuk mengunjungi ibunya saat hari raya Idul Fitri. Permintaan itu diajukan Fredrich karena ibunya sudah berusia 94 tahun.

"Mohon ijin yang mulia. Kami ada mengajukan permohonan melalui penasihat hukum mengingat hari raya ibu saya kan sudah 94 tahun, yang mana yang mulia sudah pernah memberikan izin (untuk mengunjungi). Kalau untuk acara hari raya kan kita sungkem, jadi mohon izin kalau berkenan kami diberi waktu untuk menyungkem ke orang tua," kata Fredrich dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (8/6/2018).


Atas permintaan itu hakim menanyakan apakah dari pihak KPK siap untuk melakukan pengawalan. Pihak jaksa kemudian menjawab kalau di rutan Cipinang sendiri ada jadwal kunjungan keluarga saat hari raya.

"Kami sudah menanyakan ke pihak rutan Cipinang bahwa jadwal untuk besuk saat dilaksanakannya hari raya minggu depan tetap ada. Infonya pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Dimulai Jumat-Sabtu," ucap jaksa KPK M Takdir.

"Khusus minggu depan, Cipinang memberikan kesempatan besuk kepada keluarga tahanan yang ada di sana, dan jadwalnya dilebihkan majelis," sambung Takdir.

Mendengar jawaban jaksa itu Fredrich mengatakan yang dimaksudnya bukan jadwal besuk. Ia menekankan kalau ibunya sudah 94 tahun dan ia mengatakan tak tega kalau ibunya harus berkunjung ke Cipinang karena faktor usia.

"Umur ibunda saya 94, kemungkinan penuntut umum belum ada orang tua yang seumur dengan ibunda saya. Apakah seorang 94 tahun saja jalan sudah susah. Sudah tau, tega disuruh datang?" ujar Fredrich.


Jaksa kembali menjawab kalau pengawal tahanan KPK terbatas akibat cuti dan ada kasus OTT yang butuh pengawalan tahanan. Namun, Fredrich mengaku sudah menanyakan ke pengawal tahanan dan menyatakan apa yang disampaikan penuntut umum mengada-ada dan balas dendam.

"Menurut saya, kami sudah tanya waltah (pengawal tahanan). Mereka sudah punya jadwal sendiri dan memang tidak ada kegiatan. Seperti hari ini, hanya saya. Sehingga apa yang disampaikan penuntut umum itu mengada-ada hanya bersifat balas dendam. Jadi itu perikemanusiaan yang kami ajukan kepada yang mulia. Yang menentukan yang mulia, bukan penuntut umum," ucap Fredrich.

"Kita bisa minta kepolisian untuk pengawalan," sambungnya.

Hakim sendiri mengatakan belum tahu apakah bisa atau tidak memenuhi izin yang diminta Fredrich. Menurut hakim, saat hari raya permintaan Fredrich itu sulit atau bahkan tidak bisa dipenuhi.

Namun, Fredrich lagi-lagi meminta agar diberi izin. Alasannya saat lebaran, semua keluarganya, baik dari Amerika dan London hadir.

"Lebaran ini seluruh keluarga besar, termasuk keluarga saya yang dari Amerika, keluarga saya yang dari Singapura, dari London semua berkumpul pada hari H. Adalah untuk sungkem kepada orang tua. Kalau pengawalan, kepolisian itu siap, 24 jam, dan kemudian apapun alasan yang disampaikan ini menunjukkan bahwa penuntut umum itu seolah-olah dia bisa memerintahkan majelis hakim," kata Fredrich.


Tapi, harapan Fredrich harus pupus. Hakim menyatakan tak bisa memenuhi dan mengatakan agar keluarga dari Fredrich yang datang ke Cipinang.

"Sudah kami musyawarahkan. Untuk yang itu mohon maaf tidak bisa dipenuhi, silakan keluarga dari luar negeri bisa besuk ke LP untuk ketemu sama saudara. Kalau nanti setelah resmi masuk hari Kamis, kemungkinan bisa, saat hari raya tidak bisa," ujar hakim.

Fredrich pun menyatakan akan mengikuti perintah hakim. Namun, ia menyumpahi penuntut umum akan dapat balasan dari Allah.

"Itu sudah keputusan yang mulia, kami hanya mengikuti. Cuma, kami bersumpah pak, dalam hal ini penuntut umum akan mendapat balasan dari Allah. Bagaimana dia perlakukan terhadap orang tuanya pak, insyaallah orang tuanya masih hidup pak," ucap Fredrich.

Mendengar itu, jaksa menyampaikan protes. "Kami keberatan dengan ucapan terdakwa yang terakhir itu majelis, hanya keberatan dengan ucapannya," tutur Takdir.


Jaksa: Tak ada hal yang meringankan dari perbuatan Fredrich

[Gambas:Video 20detik]


(haf/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed