Kesederhanaan Artidjo: Kelas Ekonomi, Tas Ransel dan Minus Ajudan

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 23 Mei 2018 17:03 WIB
Artidjo Alkostar (ari/detikcom)
Jakarta - Indonesia harus merelakan Artidjo Alkostar menanggalkan toga emasnya. Sebab, Ketua Muda Mahkamah Agung (MA) bidang Pidana itu memasuki usia 70 tahun dan harus pensiun. Tak ada yang meragukan integritas Artidjo sepanjang jadi hakim agung.

Salah satu integritasnya yaitu tetap memelihara kesederhanaan. Sebagai Ketua Muda MA atau setara dengan menteri, Artidjo bisa saja naik pesawat kelas bisnis, tetapi ia tidak melakukannya.

"Saat itu saya satu pesawat dengan beliau pada 3 Maret 2018 dari Jakarta ke Surabaya menggunakan kelas ekonomi," kata Direktur Puskapsi Universitas Jember, Bayu Dwi Anggono saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/5/2018).


Kesederhanaannya kontras dengan kinerjanya. Lewat ketokan palunya, Artidjo mengembalikan kerugian negara ratusan miliar rupiah. Namun, itu tidak membuatnya jumawa untuk meminta yang berlebih.

"Seorang hakim yang berhasil mengembalikan dalam jumlah besar uang negara yang dicuri koruptor, tapi tidak menggunakan fasilitas maksimal yang bisa dipakai yang menjadi haknya yaitu penerbangan kelas bisnis, melainkan memilih menghemat uang negara dengan naik kelas ekonomi," tutur Bayu.

Sebagai Ketua Muda MA, Artidjo dengan santai bepergian tanpa pengawalan ajudan dan juga asisten. Padahal, sebagai hakim agung yang dikenal sebagai algojo ke koruptor, semua kemungkinan bisa terjadi. Namun, ia memilih berjalan sendirian dengan tas ransel di pundaknya.

Kesederhanaan Artidjo: Kelas Ekonomi, Tas Ransel dan Minus AjudanArtidjo dengan Direktur Puskapsi Universitas Jember Dr Bayu Dwi Anggono (dok.pri)

"Hakim yang sudah bener-benar dekat dengan Sang Khalik," kata Bayu.

Lalu bagaimana sesampainya di Jember? Artidjo hanya dijemput beberapa anggota panitia yang mengundangnya dari sebuah pondok pesantren di Jember. Tak ada barisan hakim yang menyambutnya, atau kalungan bunga seturunnya dari pesawat. Tak ada tarian selamat datang yang lazim diberikan panitia kepada pejabat negara yang datang.

"Nggak ada orang pengadilan yang menjemput," cerita Bayu.


Artidjo Alkostar pensiun setelah 18 tahun jadi hakim agung. Di mata koleganya, Artidjo dikenal anti suap, bahkan menjadi ikon/simbol integritas Mahkamah Agung (MA).

"Bisa dipastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyinggung, apalagi minta tolong mengenai perkara. Untuk urusan satu ini, menurut saya, beliau termasuk the icon of integrity Mahkamah Agung," kata hakim agung Syamsul Maarif. (asp/gbr)