DetikNews
Sabtu 19 Mei 2018, 03:52 WIB

Teka-teki Secarik Kertas Pembelaan Aman Abdurrahman

Zunita Amalia Putri - detikNews
Teka-teki Secarik Kertas Pembelaan Aman Abdurrahman Aman Abdurrahman tampak menunjukkan secarik kertas ke pengacaranya usai dituntut mati (Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Pidana mati. Hukuman maksimal itu dinilai jaksa sebagai hukuman yang pantas bagi Aman Abdurrahman alias Oman Rochman.

Bahkan, jaksa menyebut tidak ada unsur apapun yang dianggap bisa meringankan hukuman bagi Aman. Terdakwa kasus bom Thamrin itu dianggap jaksa sebagai otak dari rentetan teror bom yang terjadi di Tanah Air mulai dari teror bom di gereja Samarinda pada 13 November 2016, teror bom Kampung Melayu pada 24 Mei 2017, hingga teror penembakan anggota polisi di Bima, NTB pada 11 September 2017.

Selepas jaksa membacakan surat tuntutan, majelis hakim yang mengadili perkara tersebut mempersilakan Aman untuk menentukan sikap. Aman pun beranjak dari kursi terdakwa dan melangkahkan kaki ke arah pengacara yang ada di sisi kanannya.


Aman kemudian duduk di sisi pengacaranya. Dua polisi bersenjata lengkap tampak berjaga di belakang Aman dan pengacaranya tersebut.

Diskusi singkat antara keduanya terjadi. Aman tampak membisikkan sesuatu ke telinga pengacaranya itu. Sejurus kemudian, tangannya merogoh sesuatu dari kantong celananya dan mengeluarkan secarik kertas.

Kertas itu diangsurkan Aman ke pengacaranya. Tampak si pengacara yang bernama Asrudin Hatjani itu membaca tulisan di secarik kertas tersebut. Kemudian, gantian Asrudin yang menyorongkan kepala ke arah Aman dan membisikkan sesuatu.

Entah apa yang mereka perbincangkan, tetapi setelahnya Aman beranjak kembali ke kursi terdakwa. Majelis hakim kemudian melemparkan pertanyaan pada Aman.

"Nota pembelaan mau sendiri-sendiri atau berbarengan," tanya hakim pada Aman.

Aman mengaku akan mengajukan nota pembelaan atau pleidoi bersama-sama dengan pengacaranya. Hakim pun menutup sidang yang akan dilanjutkan pada pekan depan. Usai persidangan, tak ada komentar apapun dari Aman setelah dituntut mati.

Sesaat setelah itu, misteri secarik kertas dari kantong Aman itu belum terungkap. Berangsur-angsur pengunjung sidang meninggalkan ruang persidangan tersebut. Asrudin, pengacara Aman yang tadi membaca secarik kertas dari Aman, juga beranjak. Dia sempat mengungkapkan pesan apa yang disampaikan Aman padanya.

"Itu isinya poin-poin pembelaan," kata Asrudin.

Namun, Asrudin enggan membeberkan lebih detail tentang secarik kertas dari Aman tersebut. Menurut Asrudin, poin-poin pembelaan itulah yang bakal disampaikan dalam persidangan pekan depan.


"Poinnya akan diungkap sidang pekan depan," sebut Asrudin.

Aman merupakan terpidana kasus terorisme yang diyakini jaksa sebagai otak di balik sejumlah rencana teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin 2016. Jaksa menyebut Aman berinisiatif membentuk Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga sebagai kelompok antek ISIS di Tanah Air.

JAD disebut jaksa dibentuk Aman di Nusakambangan. Jaksa mengatakan Aman masih bisa berkomunikasi dengan jamaahnya dari luar lapas ketika dijenguk. Dari komunikasi-komunikasi yang dijalin Aman terbentuklah organisasi JAD. Peran Aman disebut jaksa sebagai pemberi saran ke Marwan alias Abu Musa, Zainal Anshori, dan Abu Khatib untuk membentuk organisasi tersebut.

Melalui JAD itulah Aman disebut jaksa menggerakkan teror bom Gereja Oikumene di Samarinda, bom Thamrin, bom Kampung Melayu serta penusukan polisi di Sumatera Utara dan penembakan polisi di Bima.



(dhn/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed