20 Tahun Berlalu Setelah 4 Mahasiswa Trisakti Ditembak

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Sabtu, 12 Mei 2018 08:30 WIB
Mural Tragedi 12 Mei 1998 (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Sudah 20 tahun berlalu setelah 4 mahasiswa Trisakti, Jakarta, ditembak. Gugurnya mereka kemudian mendorong semangat perubahan yang kini dikenal dengan era Reformasi.

Keempat mahasiswa itu adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Hingga kini siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas gugurnya mereka masih misteri.


"Belum ada kemajuan yang berarti. Untuk kasus penghilangan paksa, kemajuannya adalah adanya rekomendasi DPR tahun 2009 untuk mengusut kasus penculikan/penghilangan paksa. Sedangkan penembakan mahasiwa sama sekali tidak ada rekomendasi apapun," kata Sekretaris Umum IKOHI Zaenal Muttaqin saat berbincang dengan detikcom, Jumat (11/5/2018).

IKOHI atau Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia terus berkomunikasi dengan keluarga korban, baik tragedi Trisakti ataupun peristiwa lain sepanjang 1997-1998. Bagi Zaenal, penegakkan HAM adalah salah satu agenda besar Reformasi yang harus terwujud.

Sayangnya, agenda Reformasi masih menyisakan misteri akan gugurnya 4 pemuda ini. Janji pemerintah-pemerintah pasca-Reformasi untuk menuntaskan kasus ini pun belum terwujud.

Apa yang terjadi?

Berdasarkan laporan IKOHI, peristiwa itu diawali dengan acara mimbar bebas di depan kampus Trisakti. Mereka juga berencana untuk long march menuju Gedung DPR/MPR RI.

Mimbar bebas ini digelar sebagai bentuk penolakan atas terpilihnya kembali Soeharto lewat Sidang Umum MPR. Namun niatan mereka untuk bisa berjalan bersama menuju gedung wakil rakyat dihadang oleh aparat.


Masih menurut laporan IKOHI, sebenarnya ada upaya negosiasi agar para mahasiswa bisa berjalan menuju DPR/MPR. Namun negosiasi gagal dan personel aparat bertambah.

Merujuk pada laporan tersebut, mahasiswa akhirnya menarik diri ke dalam kampus. Akan tetapi ada provokasi dari pihak yang mengaku-ngaku sebagai alumni Trisakti.

Mahasiswa mengejar oknum yang diduga provokator tersebut dan justru mengarah ke barisan aparat. Dari versi Senat Mahasiswa Universitas Trisakti yang dikutip IKOHI, mahasiswa kembali diprovokasi oleh aparat yang meledek dan menertawakan mereka.

Ada mahasiswa yang terpancing sehingga menyerang aparat. Satgas Mahasiswa Trisakti sebetulnya sudah berupaya meredam, namun serangan itu membuat aparat menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa aparat mengarahkan laras senjatanya ke arah mahasiswa. Banyak mahasiswa terkena tembakan. Empat di antara para mahasiswa itu terkena tembakan paling telak sehingga menghembuskan nafas terakhir.

Dalam catatan Amnesty International, peristiwa penembakan itu terjadi pada pukul 17.30 WIB. Pada hari itu sempat dilaporkan bahwa ada 6 mahasiswa yang tewas, namun setelah didata ulang, korban tewas adalah 4 orang di kampus Trisakti. Untuk korban luka, menurut catatan Amnesty International adalah sedikitnya 10 mahasiswa.

Pada saat itu Amnesty International mengajak pemerintahan negara lain untuk berbelasungkawa atas tewasnya mahasiswa yang menuntut reformasi. Mereka juga mengajak komunitas internasional untuk memberi dukungan atas aksi mahasiswa Indonesia.

Apa Tuntutan Mahasiswa saat itu?

Aksi mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 sebetulnya menyambung dari Gerakan Mahasiswa Indonesia sejak pertengahan 1997. Terpilihnya kembali Soeharto dan krisis moneter jadi pemicu gejolak gerakan mahasiswa.

Pada awal 1998, terjadi sederet penculikan mahasiswa hingga seniman. Para mahasiswa yang diculik rata-rata diinterogasi tentang pandangan politik mereka.

Tanggal 4 Mei 1998, pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan berimbas pada kenaikan ongkos angkutan. Gerakan mahasiswa pun semakin besar hingga tertembaknya 4 mahasiswa Trisakti di tanggal 12 Mei 1998.

Ada 6 tuntutan gerakan mahasiswa saat itu. Keenam tuntutan itu adalah:

· Adili Soeharto dan kroni-kroninya,
· Laksanakan amandemen UUD 1945,
· Hapuskan Dwi Fungsi ABRI,
· Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya,
· Tegakkan supremasi hukum,
· Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN

Tertembaknya Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie kemudian menyulut gelombang gerakan mahasiswa semakin tinggi lagi. Hingga akhirnya pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI.

Kini setelah 20 tahun berlalu, sebagian tuntutan mahasiswa saat itu sudah terpenuhi; amandemen UUD 1945 yang bahkan sampai 4 kali, penghapusan dwi-fungsi ABRI, pelaksanaan otonomi daerah, hingga pembuatan sistem penegakan supremasi hukum dan penciptaan pemerintahan bersih dari KKN.

Namun terlepas dari tuntutan Reformasi itu, kasus yang menyebabkan gugurnya 4 mahasiswa Trisakti ini masih tanda tanya. Akankah misteri ini segera terjawab?



Simak juga video "Pemerintah Didesak Ungkap Tragedi Mei 98, Segera!" di 20Detik:
(bag/dkp)