"Kalau pernyataan soal kompleksitas, pemilu Indonesia itu bukan hal baru. Bahkan tahun 2004 saja ketika pileg dan pilpres masih terpisah satu sama lain, itu majalah The Economist menyebut pemilu Indonesia itu The Most Complex Election in The World, jadi pemilu paling kompleks sedunia, di dunia. Apalagi nanti ketika Pemilu 2019 pileg dan pilpres diselenggarakan serentak," kata Titi saat dihubungi detikcom, Jumat (4/5/2018).
Baca juga: JK: Pemilu 2019 Terumit Sedunia |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum lagi posisi yang dipilih juga banyak, ada lebih dari 2 ribu daerah pemilihan dengan surat suara yang mencapai nanti di 2019 lebih dari 1 miliar lembar suara, dengan petugas pemilu yang jumlahnya mencapai lebih dari 5 juta orang, dan kandidat yang kalau dihitung jumlahnya 300 ribu orang yang merebutkan kurang-lebih 20 ribu posisi. Dari situ saja itu sudah luar biasa mengelola pemilu. Jadi kerumitan itu merupakan konsekuensi menyelenggarakan pemilu di negara yang sangat besar pemilihnya dengan wilayah sangat luas juga dengan parpol yang banyak kandidat besar dan surat suara sangat banyak jadi memang kompleks," lanjut Titi.
"Karena India pemilunya tidak satu hari, tapi bergiliran. Jadi kurang-lebih 1 bulan pemungutan suara di India. Di AS memang populasi AS 300 juta, tapi pemilihnya hanya 130 jutaan. Sementara kita, walaupun 250 juta, total pemilih kita 187 juta," paparnya.
Titi berharap, pada Pemilu 2019, seluruh elemen bangsa bisa terlibat dalam pelaksanaan pemilu. Dia juga ingin ada perbaikan dari pihak penyelenggara agar Pemilu 2019 berjalan lancar.
Salah satu yang menurutnya perlu perbaikan adalah mengantisipasi tertukarnya surat pemilihan suara.
"Ya kita memerlukan kontribusi, memerlukan kerja semua elemen bangsa. Karena memang dengan embel-embel pemilu paling rumit di dunia, kan tidak mungkin tugas untuk menyelenggarakan hanya dibebankan pada penyelenggara pemilu. Diperlukan kerja sama yang baik antara semua aktor pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah aparat keamanan, kementerian lembaga terkait untuk mendukung kerja KPU, termasuk partisipasi masyarakat, media, tokoh agama, untuk ikut ambil bagian di dalam memastikan pemilu 2019," jelasnya. (idn/jor)











































