BRG Berjibaku Timbun Kanal di Lahan Gambut Warisan Orba

Aryo Bhawono - detikNews
Kamis, 03 Mei 2018 07:28 WIB
Ketua BRG Nazir Foead (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Bentangan hijau tanaman perdu terlihat sejauh mata memandang ketika menyisir kanal bekas blok A pembukaan lahan gambut (PLH) sejuta hektar di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Air berwarna hitam tampak tenang dilihat di permukaan tapi arus deras terpendam di bawah.

Seorang pegawai Badan Restorasi Gambut (BRG), Andrian Gannery, menceritakan pengalamannya menyisir jaringan kanal pada 2017. Bayangan Andri mengenai rimbunnya kawasan gambut buyar seketika. Lahan gambut itu dibuka di masa Orde Baru pada 1995, lantas setelah 20 tahun ditinggalkan lahan itu tak kembali rimbun seperti sediakala.

"Jika anda orang yang mencintai lingkungan, saya jamin akan menangis," kata Andrian kepada detik.com, Rabu (2/5/2018).

Kawasan Blok A dibuka di dua desa, Sei Ahas dan Katunjung, seluas 26.000 ha. Sayatan-sayatan kanal terlihat jelas dari foto udara. Kanal itu dibangun untuk mengeringkan lahan gambut dan mengalirkan air menuju sungai Barito dan Kapuas.

Ada beberapa kelas kanal primer yang dibangun, yakni saluran primer induk yang digali berpasangan dengan lebar masing-masing 24-32 meter dan kedalaman 2,5 - 3 meter, saluran primer utama dengan lebar 16-24 meter dan kedalaman 1,5 - 2,5 meter, dan saluran primer pembantu dengan lebar 8-16 meter dan kedalaman 0,75-1,5 meter. Setelah ditinggalkan, kedalaman kanal ada yang bertambah hingga 4 meter.

Jaringan kanal Blok A membelah kesatuan hidrologi gambut (KLH) antara Sungai Kapuas dan Barito. Jaringan kanal ini berhasil memeras air di kubah gambut. Pemerintah kala itu berencana mengeringkan lahan gambut untuk pertanian. Mereka ingin mengembalikan kedigdayaan swasembada pangan yang merosot.

Tapi alam berkata lain. Kegagalan penanaman padi terjadi. Andrian mengungkapkan, seorang petani dari desa sekitar mengaku membuat sawah-sawahan dengan menanam padi yang sudah matang. Upaya ini dilakukan agar Presiden Soeharto tak malu ketika bertandang kala itu.

Kegagalan penanaman ini bukan puncak bencana. Pada kebakaran hutan 2015, Kabupaten Kapuas menjadi salah satu daerah dengan titik panas (hot spot) terparah. Api membakar di atas maupun di bawah gambut kering.

"Gambut itu seperti spons, kanal itu mengeringkan air yang seharusnya menggenanginya. Ketika kering, sifatnya seperti kertas tisu, api akan merambat dengan cepat. Belum lagi kandungan gas metana di bawah, api jadi susah ditebak," tegas Andrian.

Gambut terdiri dari beragam organik mati yang belum selesai pembusukannya karena kadar asam yang tinggi. Secara umum, gambut disebut sebagai batubara setengah jadi. Ketika kering, bentuknya-pun seperti briket.

Pada Februari 2018, BRG mulai menguruk kanal lahan Blok A. Andrian datang bersama rombongan alat berat untuk menguruk 100 titik di jaringan kanal itu.

Ia menyatakan proyek penimbunan sebenarnya sudah direncanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. BRG kemudian bekerjasama dan melakukan sebagian pengurukan, yakni di separuh kawasan Blok A.

"Penimbunan ini lebih mahal dan susah daripada membuat parit. Bayangkan saja, perjalanan alat berat menembus parit-parit itu. Jarak per kilometer ditempuh dalam 5 jam dalam kondisi normal. Padahal kalau penimbunannya hanya makan waktu sekitar satu jam saja," ungkapnya.

Mengeringnya lahan gambut ini menjadi teror tersendiri bagi warga kampung sekitar area PLH. Usen J, warga desa Garong, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau yang tinggal di dekat area PLH mengungkap saat kemarau kanal itu mengering. Pada kebakaran 2015 yang terjadi saat kemarau, air dari sungai alami harus melewati jarak puluhan kilometer untuk mencapai api.

"Membawa badan saja susah apalagi membawa air saat itu," kenangnya ketika ditemui saat Jambore Masyarakat Gambut di Kiram, Kalimantan Selatan (30/5/2018).

Tanaman karet yang ditanamnya hampir habis dilalap api pada kebakaran tersebut. Ia menderita kerugian ratusan juta rupiah. Rekan sedesa Usen, Almadi, mengungkapkan keluhan yang sama. Tanaman karetnya seluas setengah hektar ludes.

Kepala BRG, Nazir Foead, mengungkapkan penimbunan kanal ini merupakan bagian dari rencana lembaganya untuk membasahi lahan gambut. Selain areal PLG, ia membuat program pembuatan bendungan kanal di areal pertanian gambut di beberapa wilayah. Selain itu sumur bor di berbagai titik juga dibangun untuk menjamin ketersediaan air.

"Inti dari restorasi adalah menjaga air di lahan gambut. Lahan itu harus terus lembab dan basah, kalau kering akan menjadi pemicu kebakaran saat kemarau," jelasnya.

(ayo/jat)