Hari Pendidikan Nasional

Rawat Ayahnya yang Gila, Siswa SMP Ini Banting Tulang Sambung Hidup

Yahya Maulana - detikNews
Rabu, 02 Mei 2018 09:15 WIB
Idris menjadi kepala rumah tangga di usia muda (yahya/detikcom)
Takalar - Seorang pelajar SMP di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Idris (15) harus banting tulang menghidupi keluarganya. Kemiskinan memaksa pelajar ini menjadi kepala rumah tangga karena neneknya sudah uzur dan bapaknya mengalami gangguan jiwa.

Idris saat ini duduk di bangku kelas dua SMP asal Dusun Batu Lanteang, Desa Pattopakang, Kecamatan Mangngarabombang, Takalar. Sehari-hari, ia tinggal bersama neneknya, Sedo (78) yang sudah uzur. Adapun ayahnya, Mallu (43) yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi ini mengharuskan Idris untuk banting tulang usai pulang sekolah.

"Saya harus kerja kalau tidak siapa yang akan biayai saya punya nenek dan bapak yang sakit," kata Idris kepada detikcom, Rabu (2/5/2018).


Setiap hari Idris harus bekerja serabutan demi menjaga asap dapur rumahnya tetap mengepul. Upah yang ia dapatkan sebagian disimpan untuk keperluan sekolahnya. Sebagian lainnya ia gunakan untuk merawat nenek dan bapaknya.

"Saya kerja sembarangan kalau ada yang orang (warga) yang minta bantuan. Pekerjaan saya bantu kadang cuma dikasih makan. Syukur-syukur kalau ada yang kasih saya uang," cerita Idris.
Rawat Ayahnya yang Gila, Siswa SMP Ini Banting Tulang Sambung Hidup

Tak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga dengan bekerja serabutan. Idris juga harus merawat nenek dan bapaknya. Neneknya yang dahulu adalah petani penggarap sawah milik warga sudah uzur dan sudah tak mampu bekerja sebagaimana mestinya. Sementara bapaknya mengalami gangguan jiwa pasaca kecelakaan kerja yang dialaminya pada tahun 2011 silam.

"Cuma dia saja yang kerja cari uang karena neneknya sudah tidak bisa jalan sementara bapaknya cuma duduk saja termenung karena gila," kata tetangga Idris, Ridwan Tate.

Ibu kandungnya pergi meninggalkan Idris dan bapaknya yang mengalami gangguan jiwa dengan membawa dua orang saudara Idris.

"Saya punya dua orang saudara tapi dibawa sama ibuku dan sekarang ibuku sudah bersuami lagi," kata Idris.


Meski kenyataan hidup begitu pahit dialami oleh pelajar SMP ini namun hal ini harus ia jalani. Idris hanya berharap mampu terus bekerja agar dirinya mampu sekolah ke jenjang perguruan tinggi.

"Mudah mudahan saya masih bisa kerja terus untuk bisa sekolah dan bisa kuliah karena kata orang cuma sarjana saja yang bisa bekerja di kantor-kantor," kata Idris dengan lugu. (asp/asp)