DetikNews
Rabu 25 April 2018, 23:13 WIB

Sempat Datang ke Aksi 212, Apakah Jokowi Termasuk Alumni 212?

Jabbar Ramdhani - detikNews
Sempat Datang ke Aksi 212, Apakah Jokowi Termasuk Alumni 212? Presiden Jokowi saat menuju panggung dalam Aksi 212, yang digelar di Monas pada 2 Desember 2016. (Foto: Dok. detikcom)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Tim 11, yang berasal dari Persaudaraan Alumni 212, di Istana Bogor pada Minggu (22/4) lalu. Peristiwa ini ramai dibahas mengingat publik menganggap kedua belah pihak bertentangan.

Nyatanya, Jokowi dan Alumni 212 sempat melakukan pertemuan beberapa kali. Jokowi juga sempat datang ke Aksi Damai 212, yang digelar pada 2 Desember 2016, di Monas. Lalu, apakah Jokowi termasuk Alumni 212?

Ketua Tim 11 Misbahul Anam mengatakan siapa pun yang datang ke Aksi 212 bisa disebut sebagai alumni 212. Dia memberi analogi alumni 212 seperti alumni sekolah.


"Kalau kita sih, siapa pun yang pada saat itu datang di 212 jadi alumni 212. Cuma kan kalau kita bicara alumni kan sama kayak alumni sekolah. Ada yang alumni sekolah mbalelo, ada yang baik," kata Misbahul saat dihubungi, Rabu (25/4/2018).

Saat ditanya Jokowi masuk ke kategori mana, Misbahul tidak menjawab langsung. Hanya, dia menilai Jokowi terangkat ketika mengikuti aksi tersebut. Namun Misbahul menilai Jokowi tak berterima kasih meski citranya sudah terangkat.

"Sebetulnya, Jokowi sebagai orang yang berposisi alumni 212 yang namanya sudah diangkat oleh 212 karena damainya 212, di seluruh dunia kenal Indonesia," ujarnya.


"Artinya, Presiden Jokowi sangat diuntungkan dengan aksi 212. Meskipun akhirnya tidak terima kasih sama tokoh 212," sambung Misbahul, yang juga menjabat anggota Penasihat PA 212.

Terkait maksud 'tidak terima kasih' itu, Misbahul mengatakan hal ini terkait dengan kriminalisasi para ulama. Dia mengatakan permintaan Alumni 212 kepada Jokowi untuk turun tangan menghentikan upaya kriminalisasi ulama belum direalisasi.

Dia mengatakan Alumni 212 sudah menyampaikan permintaan ini sejak pertemuan pada Idul Fitri lalu. Permintaan ini kembali disuarakan pada pertemuan di Istana Bogor kemarin. Menurutnya, sesama alumni semestinya saling membantu.


"Ya Presiden berjanji akan bertindak, menyelesaikan seadilnya. Saya pikir samalah saat Idul Fitri tahun lalu jawabannya. Normatif begitu. Tapi kita kan tidak butuh perkataan, tapi realita tindakannya, begitu," tuturnya.

"Mestinya sesama alumni, yang punya dedikasi saling bantu, saling tolong selama itu maslahat. Kan logikanya begitu," imbuh Misbahul.

Disinggung soal kemungkinan terjadinya pertemuan kembali, Misbahul mengatakan ada kemungkinan hal itu terjadi. Namun PA 212 menginginkan adanya dialog terbuka antara pemerintah dan ulama.


Misbahul berharap ada rekonsiliasi antara ulama Alumni 212 dan pemerintah. Dengan adanya dialog terbuka, diharapkan sekat antara ulama Alumni 212 dan pemerintah bisa dihilangkan. Dia mengatakan ulama akan siap kapan pun pertemuan digelar asalkan dilakukan lewat dialog terbuka.

"Kita akan terima kalau dialog terbuka. Rekonsiliasi sudah, untuk kebaikan bangsa. Kita tidak punya kepentingan pribadi, kepentingan kelompok juga tidak. Kepentingan kita adalah kemaslahatan bahwa NKRI harus tetap utuh, harus tetap teguh, tetap bersatu," ungkap Misbahul.

"Kalau ulama salah, salahnya di mana. Pemerintah salah di mana. Diluruskan demi kebaikan bangsa. Jadi rekonsiliasi ini penting. Sampai kapan Indonesia akan seperti ini," tambahnya.
(jbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed