DetikNews
Senin 23 April 2018, 09:59 WIB

Ini Perjuangan Tyas Penyelamat Hutan di Suku Rimba dan Dayak

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Ini Perjuangan Tyas Penyelamat Hutan di Suku Rimba dan Dayak Tyas sang pejuang hutan (ist.)
Pekanbaru - Kaki wanita ini melangkah di pedalaman hutan memberikan advokasi Orang Rimba di Jambi di kawasan hutan belantara di Sumatera. Sukses di pulau Andalas, Siswaningtyas Tri Nugraheni (37) kini mengadvokasi suku Dayak di Kalimantan Timur dalam penyelamatan hutan.

Tyas, begitu sapaan akrabnya, adalah aktivis kaum Kartini yang bergabung di Komunitas Konservasi Indonesia WARSI yang berpusat di Jambi. Sejak tahun 2008, dia menghabiskan waktunya untuk melakukan pendampingan di Suku Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) di Provinsi Jambi.

Pendampingan yang dia lakukan di Orang Rimba, dalam hal menjaga wilayah hutan dari perambahan pelaku ilegal logging. Kawasan TBND dikelilingi 23 desa, di dalam taman dihuni suku Rimba.


Desa dengan kawasan TNBD saling berdampingan. Tyas waktu itu mendapat pendampingan di bagian selatan. Wilayah selatan ini ada desa yang langsung berbatasan dengan taman.

Karakter orang desa dengan orang Rimba berbeda. Budayanya juga jauh berbeda. Di sinilah, tugasnya Tyas bagaimana kedua kultur yang berbeda itu saling dijaga agar tidak terjadi konflik.

Di dalam taman nasional, Tyas memberikan edukasi bagaimana masyarakat yang hidup di dalam hutan ini diberikan pertanian karet. Mereka diharapkan tidak lagi pola hidup yang nomaden.

"Jadi kita memberikan pengertian mencoba mereka mengajak mengola lahan yang sudah ada dengan menanam karet. Ini paling cocok buat mereka, dengan harapan mereka tak lagi berpindah-pindah dalam mencari ekonomi," kata Tyas dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (23/4/2018).

Yang tak kalah pentingnya lagi, Tyas menjadi jembatan antara Orang Rimba dengan masyarakat desa. Karena keduanya memiliki perbedaan budaya yang cukup berbeda. Satu sisi, mereka hidup dalam satu kawasan yang sama.

Dalam budaya Orang Rimba, hasil hutan, semisal petai, jengkol getah jernang (getah rotan) menjadi milik bersama. Siapa duluan yang melihat, boleh mengambil hasilnya di dalam kawasan taman.

Tapi, hal itu akan menjadi masalah, bila budaya Orang Rimba itu mereka terapkan di desa. Karena bagi orang desa mengambil yang bukan di lahannya sendiri tentu dianggap sebagai pencuri.

Kondisi perbedaan budaya inilah yang kadang harus dijembatani antara keduanya. Sebab, ketika Orang Rimba keluar dari kawasan taman nasional, mereka melintas di desa dan melihat ada hasil pertanian seperti buah-buahan, petai, rotan akan mereka ambil.

Orang Rimba merasa mengambil yang demikian menjadi hal yang biasa karena prinsipnya siapa duluan yang melihat dia berhak untuk menguasainya.


Di sinilah Tyan berperan memberikan edukasi kepada Orang Rimba agar tidak melakukan hal itu di luar taman nasional. Karena kebiasaan seperti itu selalu menjadi konflik antara masyarakat desa dengan Orang Rimba.

"Kita berikan pengertian kepada Orang Rimba, agar mereka tidak mengambil hasil hutan bila sudah di luar kawasan taman nasional. Kita juga memberikan pemahaman kepada masyarakat desa untuk tidak langsung menuding Orang Rimba melakukan pencurian. Inilah budaya berbeda yang sering menimbulkan konflik yang harus kita jembatani," kata Tyas.

Ke masyarakat desa, hal yang sama juga dilakukan advokasi. Di harapkan masyarakat desa tidak merambah kawasan taman nasional. Karena di sana ada komunitas masyarakat Rimba.

Sebagian warga desa dulunya sering masuk kawasan taman nasional untuk merambah kayunya. Itu dilakukan tentu dalam hal tuntutan ekonomi. Hasil hutan yang paling gampang mendatangkan uang tentu dengan menjual hasil kayunya.

Tyas pun harus melakukan pendekatan ke tokoh-tokoh desa. Mereka diimbau tidak lagi membuka perladangan ke dalam kawasan hutan. Padahal di desa banyak persawahan yang sudah lama ditinggalkan masyarakatnya Mereka sebagian memilih merambah hasil hutan, sebuah pekerjaan yang paling gampang menghasilkan uang.

Solusi yang ditawarkan Tyas bersama komunitas WARSI adalah, menghidupkan kembali pundi ekonomi dengan memanfaatkan sawah yang sudah lama mereka tinggalkan.

"Kita mengajak masyarakat desa untuk kembali membuka sawahnya. Dengan demikian, praktik ilegal logging lambat laut mereka tinggalkan," kata Tyas.

Memang bukan hal gampang untuk mengajak warga desa untuk bercocok tanam padi. Tapi upaya pendekatan terus dilakukan agar taman nasional tetap terjaga. Kini masyarakat desa sudah bisa membuka persawahannya lagi. Dengan membuka sawah, kawasan taman nasional pun ikut terjadi. Warga desa juga diberikan bibit unggul untuk tanaman padinya.

Persawahan yang luas di desa tersebut tentunya butuh air dari hulu sungai yang ada di taman nasional. Tyas memberikan pengertian ke warga desa, jika batang kayu di bagian hulu sungai dirambah itu ancaman serius buat sawah mereka sendiri.

"Kita jelaskan pada warga desa, kalau hutan di hulu sungai dirambah, itu akan menghancurkan resapan air. Jika resapan air rusak, tentu air ke sawah tak mengalir lagi dan akan mengancam hasil sawah mereka sendiri. Akhirnya mereka menyadari akan arti penting penyelamatan hutan taman nasional," kata Tyas.

Kesuksesannya di kominitas Orang Rimba dalam melakukan advokasi, kini Tyas dipercayakan kembali untuk mendampingi suku Dayak di Kalimantan Timur (Kaltim). Tantangan baru ini membuatnya ingin mengimplementasikan apa yang sudah dia pernah kerjakan di Jambi.

Tahun 2015 lalu, awal pertama bagi 'Kartini' masa kini menapak kaki di komunitas suku Dayak. Ini dilakukan setelah WARSI berkolaborasi dengan Kawal Borneo Community Foundation (KBCF) untuk melakukan advokasi perlindungan hutan dan pendampingan masyarakat di sekitar hutan dengan skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM).

Tentu bukan hal yang mudah bagi perempuan yang pernah mengikuti Sekolah Filsafat Yayasan Yasna Polyana, Purwokerto tahun 2006/2007 untuk bisa diterima masyarakat Dayak. Butuh ketekunan dan kesabaran, walau dia pernah mendampingi komunitas Orang Rimba di Jambi.

"Karakter masyarakatnya pasti beda antara Orang Rimba dan Dayak. Perbedaan ini pula yang menjadi motivasi bersama kawan-kawan untuk melakukan pendampingan dalam pengelolaan hutan alam yang tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan regulasi yang sudah ada," kata Tyas.

Tantangan yang tak kalah pentingnya lagi, kehadiran WARSI awalnya belum mendapat hati di masyarakat setempat. Karena memang selama ini WARSI lebih populer di kawasan hutan belantara di Sumatera. Tantangan itu menjadi penyemangat untuk bisa memberikan pendampingan ke suku Dayak.

Untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat setempat, Tyas pun harus belajar dengan ragam budaya dari berbagai suku-suku Dayak yang ada di sana. Komunitas masyarakat yang akan didampingi berada di kawasan Hulu Mahakam di Kab Kutai Barat. Untuk mendapat akses ke suku Dayak itu, dia keluar masuk kawasan dengan menerobos sungai di kawasan hutan belantara. Sungai dengan jeram yang terjal, menjadi santapan sehari-hari dalam menempuh perjalanan. Pun demikian, Tyas dan aktivis lainnya tetap semangat.

Di sana, wanita ini melakukan advokasi keberbagai suku Dayak. Ada suku Dayak Tunjung, Dayak Bahau, Dayak Kenyah, Dayak Punan, Dayak Oheng. Tyas ditantang bagaimana hutan-hutan alam yang selama ini didiami masyarakat Dayak bisa tetap dipertahankan dari maraknya penguasaan lahan oleh investor.

Tyas bersama timnya punya tugas sangat penting. Mereka mengajak masyarakat Dayak untuk tidak lagi memberikan hutannya diekspolitasi perusahaan pertambangan dan perkebunan sawit. Masuknya perusahaan raksasa di sana, membuat masyarakat Dayak hidupnya cenderung konsumtif ingin memperoleh hasil lebih cepat. Mereka rela hutannya diambil untuk dijadikan pertambangan atau kebun sawit sepanjang menghasilkan uang. Pola pikir inilah yang harus dihempang Tyas agar hutan bisa terselamatkan.

Tyas bersama komunitasnya terus berusaha melakukan pendekatan pada elit-elit suku yang ada di sana.

"Awalnya kita ditolak. Tapi alhamdulilah, berkat pendampingan intensif dan berkelanjutan, sikap masyarakat beragsur berubah. Lambat laun, mereka menyadari akan pentingnya penyelamatan hutan yang tersisa dari lajunya para investor yang ingin membeli hutan mereka," kata ibu dari dari satu orang anak ini.

Kini, sebagian besar masyarakat Dayak di hulu dan hilir Mahakam telah sepakat dalam penyelamatan hutan. Dengan kesepakatan itulah, Tyas punya tugas yang harus dikerjakan. Dengan kelompoknya, Tyas harus membuat peta kawasan hutan kampung yang ingin diselamatkan.

Pembuatan peta ini, tentulah tidak bisa dikerjakan masyarakat Dayak. Batasan hutan yang akan diselamatkan , harus benar-benar dipetakan agar tidak menimbulkan konflik dengan perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Peran Tyas pembuatan peta dan tapal batas ini harus kerja ekstra keras. Karena kawasan yang dipetakan ini yang akan diusulkan ke pemerintah agar dikeluarkan SK untuk hutan kampung. Kawasan hutan menjadi hak veto KLHK. Karenanya, Tyas tidak boleh salah dalam membuat peta kawasan hutan yang akan diajukan ke pemerintah untuk masyarakat Dayak.

Setelah peta dibuat, Tyas pun membawa berbagai surat administrasi dari suku Dayak untuk disampaikan ke Pemkab Kutai Barat. Tyas mengajukan permohonan pelepasan kawasan hutan ke pemerintah agar dikelola masyarakat Dayak. Ini penting, agar hutan yang tersisa di sana tak lagi diperuntukkan pertambangan dan perkebunan sawit.

"Setelah semua syarat administrasi yang harus dipenuhi terkumpul, barulah kita mengajukan hutan kampung ke Pemkab Kutai Barat," kata Tyas.

Dari pengiriman permohonan pengelola hutan kampung, selanjutnya Pemkab Kutai Barat mengirimkan surat tersebut ke KLHK. Setelah surat sampai, pihak KLHK kembali dilakukan verifikasi ke lapangan.


Hasil yang dicapainya, kini Tyas bersama masyarakat Dayak telah mendapat SK dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk hutan Kampung seluas 32 ribu hektare. Padahal sebelumnya pada tahun 2011 lalu, program yang sama sudah pernah digagas, namun kandas.

"Alhamdulilah, kini masyarakat Dayak di Kutai Barat sudah punya hutan kampung seluas 32 ribu hektare yang dikelola 11 kampung yang ada. Hutan itu benar-benar dijaga masyarakat Dayak. Hutan alam mereka selamat dari ancaman dari penguasaan perusahaan raksasa pertambangan atau perkebunan sawit " tutup Tyas.
(cha/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed