DetikNews
Jumat 20 April 2018, 08:23 WIB

Rekayasa Tipu-tipu Kecelakaan Novanto yang Mulai Tersibak

Dhani Irawan - detikNews
Rekayasa Tipu-tipu Kecelakaan Novanto yang Mulai Tersibak Setya Novanto tiba di KPK setelah kecelakaan. (Grandyos Zafna/detikcom)
FOKUS BERITA: Drama Novanto di RS
Jakarta - Satu per satu rekayasa yang dilakukan Fredrich Yunadi dan dokter Bimanesh Sutarjo atas peristiwa hilangnya Setya Novanto ketika tengah diburu KPK tersibak. Kongkalikong antara Fredrich dan Bimanesh itu juga berkaitan dengan rekam medis Novanto.

[Gambas:Video 20detik]


Jaksa KPK membongkar fakta-fakta itu melalui keterangan saksi yang dihadirkan dalam setiap persidangan. Mulai perawat hingga jajaran dokter dari RS Medika Permata Hijau membeberkannya di sidang.

Bahkan salah satu terdakwa, yaitu Bimanesh, turut membongkar adanya skenario. Dalam persidangan Kamis (19/4), Bimanesh buka-bukaan ketika menjadi saksi bagi Fredrich.


Awalnya, dia mengatakan Fredrich memintanya merawat dengan diagnosis berbagai penyakit, seperti hipertensi. Namun tiba-tiba Fredrich mengubah rencananya menjadi 'skenario kecelakaan'.

"Saya sedang tidur, terbangun dering telepon terdakwa, sore pukul 17.50 WIB ditelepon, (Fredrich bilang) 'Dok, skenario kecelakaan,'" ucap Bimanesh dalam persidangan.

Dalam persidangan sebelumnya, rekayasa itu lebih jelas. Salah satunya seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Medika Permata Hijau dr Francia Anggreni. Dia menyebut ada beberapa kejanggalan pada visum yang dibuat Bimanesh untuk Novanto.

"BAP nomor 15, bahwa dr Bimanesh selaku dokter spesialis seharusnya tidak perlu membuatkan administrasi visum, karena yang membuat adalah petugas. Adapun saya pernah membaca visum atas nama Setya Novanto dibuat Bimanesh dan ada kejanggalan," kata hakim saat membacakan BAP Francia dalam persidangan, Kamis (12/4).


Francia--dalam BAP--mengaku mendapatkan salinan asli dari visum itu karena Bimanesh membuat rangkap dua untuk diserahkan ke kepolisian dan arsip. Atas BAP itu, Francia, yang juga hadir dalam persidangan, mengiyakannya.

Hakim melanjutkan membaca BAP tersebut. Beberapa kejanggalan dibongkar, seperti kop surat yang tidak resmi serta pencantuman pangkat 'kombes pol' yang dianggap tidak perlu.

"Kejanggalan itu, Bimanesh menggunakan logo RS Medika Permata dan kop surat tidak resmi serta nomor surat tidak dikenal sebagai surat administrasi. Dan format surat bukan standar Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Stempel bukan RS Medika Permata dan tidak perlu ada stempel yang perlu stempel dokter. Tidak perlu mencantumkan pangkat polisi dan militer, dalam hal ini Bimanesh gunakan pangkat 'kombes pol', itu betul ya?" kata Saifuddin kepada Francia, yang kemudian membenarkannya.


Kemudian, ada pula praktik tipu-tipu Novanto yang disebut sakit tapi dibongkar melalui keterangan Indri Astuti, perawat yang menangani Novanto. Indri menyebut memang ada benjolan pada dahi Novanto, tapi tidak sebesar bakpao seperti yang disampaikan Fredrich. Menurut Indri, benjolan itu hanya sebesar kukunya.

Indri pun sempat kaget ketika akan meninggalkan ruangan karena Novanto berteriak kepadanya agar memasangkan perban di kepalanya. Indri juga terkejut ketika Novanto meminta obat merah padanya, padahal tidak ada darah yang keluar dari luka Novanto.

Selain itu, Indri mengungkapkan tentang infus anak-anak yang dipasangkan ke Novanto. Indri mengaku memasangkan infus anak-anak itu karena tidak menemukan pembuluh darah Novanto.

"Saya mau pasang infus di tangan kanan. Karena pembuluh darah tidak kelihatan, saya mau pasang di pergelangan tangan, sebelumnya saya pasang alat, namun tidak kelihatan (pembuluh darah). Saya coba pukul dengan tiga jari. Saat pukulan kedua, saya terkejut karena tangannya itu (mengangkat), kayaknya marah," kata Indri.


Indri mengaku telah meminta izin kepada Novanto untuk memasang infus, tetapi gerakan-gerakan Novanto membuatnya bingung. Dia kemudian mengambil keputusan untuk memasang jarum infus anak kepada Novanto. Jarum infus untuk anak itu, menurutnya, memang tersedia di dalam kamar.

"Dengan keputusan saya sendiri karena pembuluh darah tidak kelihatan, tapi saat saya sentuh sekali dapat, saya menggunakan yang kuning. Itu jarum untuk anak-anak," ucap Indri.

"Alasan Anda apa pakai itu?" tanya hakim.

"Pertama, saya dikejutkan dengan tangan dia. Saya pikir bapak ini marah. Saya makin nggak berani. Saya membuat tindakan sekali tusuk saya dapat, karena (pembuluhnya) tidak kelihatan, saya pakai perabaan. Saya raba ada, saya tusuk dapat," ujar Indri.
 Setya Novanto saat dipindahkan ke RSCM Setya Novanto saat dipindahkan ke RSCM. (Faiq Hidayat/detikcom)

Kejanggalan lainnya disebut Indri terjadi ketika keesokan harinya ingin mengecek kondisi Novanto. Saat itu pagi pukul 06.00 WIB, Indri berniat mengecek tensi Novanto.

Namun, saat masuk ke kamar, Indri mendapati Novanto masih tidur sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi 5 menit kemudian. Saat akan kembali ke kamar itu, Indri membuka pintu perlahan karena takut Novanto masih tidur. Namun dia malah mendapati Novanto sedang berdiri dan kencing di samping tempat tidur.

"Saya kembali lagi ke situ, saya lihat bapak itu sudah berdiri tegak sedang buang air kecil. Dia berdiri tegak, kencing di urinal," ucap Indri.

"Nggak di toilet?" tanya hakim.

"Nggak. Dia di sisi kiri tempat tidur," jawab Indri.

"Begitu saya masuk, mungkin si bapak ini nggak mendengar karena saya buka pintu memang pelan-pelan karena saya pikir masih tidur dan tidak mau membangunkan. Saya lihat saya langsung bilang, 'Pak, saya bantuin.' Si bapak itu kaget, kayak naik badannya gitu. Setelah itu, dia merebahkan badannya dengan susah payah, padahal sudah bisa berdiri," imbuh Indri.


Soal segala macam tudingan tipu-tipu itu, Novanto pernah membantahnya. Salah satunya perihal infus anak yang menurut Novanto tak diketahuinya.

"Saya bangun sudah ada infusnya," ucap Novanto sebelum menjalani sidang pada Senin, 12 Maret lalu.

"Saya tuh paling susah untuk diinfus. Kalau sudah bisa diinfus karena pembuluh kecil, saya sadar sudah ada infus. Infus terus kalau nggak obat tidak bisa masuk," imbuh Novanto.

Selain itu, Novanto mengaku tidak tahu tentang dakwaan rekayasa rekam medis yang menjerat Fredrich dan Bimanesh. Dia juga mengaku pingsan meski Bimanesh berkata sebaliknya.

"Waduh saya nggak tahu. Kalau awal saya, data medis sudah ada. Malah saya tidak tahu ada yang palsu," ucap Novanto, Kamis, 7 Maret.

"Iya saya diperiksa di sana gitu, saya Bimanesh. Saya baru tahu waktu pingsan saja. Waktu pingsan ketemu sekali dan pagi ketemu sekali dan tidak ketemu lagi," sambung Novanto.
(dhn/ams)
FOKUS BERITA: Drama Novanto di RS
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed