DetikNews
Selasa 17 April 2018, 08:10 WIB

'JK Junior' dan Mitos Wapres RI Ahli Ekonomi

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
JK Junior dan Mitos Wapres RI Ahli Ekonomi Wapres Jusuf Kalla (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Politikus PAN Tjatur Sapto Edy menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerlukan sosok 'JK Junior' untuk mendampinginya di Pilpres 2019. Menurut Tjatur, Jokowi butuh figur yang yang memiliki keahlian ekonomi.

"Menguatkan dugaan bahwa cawapres depan adalah tokoh yang punya keahlian ekonomi," kata Tjatur kepada detikcom, Kamis (12/4/2018).



JK atau Jusuf Kalla memang seorang figur yang memiliki keahlian bidang ekonomi. Dia meraih gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tahun 1967. Kemudian gelar master didapatnya dari The European Institute of Business Administration, Perancis tahun 1977.

JK merupakan Direktur Utama grup usaha Kalla Group pada 1968 hingga 2001. Kemudian pada tahun 2001, dia diangkat menjadi Menko Kesejahteraan Rakyat oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Sebelum mendampingi Jokowi di Pilpres 2014, JK juga mendampingi Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada periode 2004-2009. JK lalu jadi Ketum Partai Golkar dan menjadi capres pada Pilpres 2009 berpasangan dengan Wiranto. Namun JK dikalahkan oleh SBY yang kembali menggandeng seorang ahli ekonomi, Boediono.



Kemudian di Pilpres 2014 pasangan Jokowi-JK mengalahkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sosok Hatta Rajasa juga merupakan ahli ekonomi yang jabatannya terakhir yakni Menko Perekonomian.



"Dulu pertimbangan kita ke Pak JK tidak sebagai ekonom dan pengusaha, tapi we are talking about politics here, politics itu power," kata Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari, Jumat (13/4/2018).

Benarkah kebanyakan Wapres RI adalah ahli ekonomi?

Sejak kemerdekaan RI diproklamasikan, sudah ada 11 nama wakil presiden. Seharusnya ada 12 wakil presiden, namun nama JK tercatat menjabat 2 kali di periode yang tidak berurutan.

Wapres RI yang pertama adalah Mohammad Hatta yang juga tokoh proklamator kemerdekaan. Hatta mengenyam pendidikan di Handels Hogeschool di Belanda yang kemudian menjadi Economische Hogeschool dan kini menjadi Universitas Erasmus Rotterdam.

Setelah menjadi wapres, Hatta kemudian dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada tahun 1947. Pemikirannya soal koperasi sebagai soko guru ekonomi Indonesia membuatnya dinobatkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Wapres kedua RI adalah Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Selain merupakan Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, HB IX juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. HB IX pernah menjabat sebagai Ketua BPK pada tahun 1959.

Wapres ke-3 RI yakni Adam Malik yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPR pada tahun 1977-1978. Adam Malik pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada tahun 1966-1977. Dia juga sempat menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada tahun 1963-1964.

Selanjutnya Wapres ke-4 RI adalah Umar Wirahadikusumah. Sebelum jadi wapres, Umar merupakan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 1973-1983.

Umar juga seorang tentara yang berpangkat terakhir sebagai Jenderal. Sebelum jadi Ketua BPK, Umar menjabat sebagai KSAD. Sebelumnya lagi dia adalah Pangdam Jaya sejak tahun 1959.

Wapres RI berikutnya yakni Soedharmono pada periode 1988-1993. Dia berkarier di bidang militer dengan pangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal. Dia pernah menjadi Ketua Golkar sebelum menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto.

Soedharmono kemudian digantikan oleh Try Sutrisno yang juga berasal dari militer. Pangkat terakhir Try adalah Jenderal karena pernah menjadi Panglima ABRI. Try menjabat sebagai wapres untuk periode 1993-1998.

Foto: Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno. (Denita-detikcom)


BJ Habibie kemudian menjabat sebagai Wapres ke-7 RI pada tahun 1998. Dia menjabat sejak Maret 1998, kemudian saat Soeharto lengser pada Mei 1998, Habibie menjadi Presiden ke-3 RI.

Habibie berkecimpung di bidang teknologi dan dikenal dengan keahliannya merancang pesawat terbang. Habibie pernah berkarier di perusahaan penerbangan Jerman hingga akhirnya diminta pulang oleh Presiden Soeharto pada tahun 1973. Dia menjadi Menteri Riset dan Teknologi pada tahun 1978 hingga 1998.

BJ Habibie yang menjadi Presiden RI pada 1998-1999 tak didampingi oleh wakil presiden. Wapres ke-8 RI kemudian dijabat oleh Megawati Soekarnoputri setelah Pemilu 1999.

Megawati merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan hingga saat ini. Sejak awal dia meniti karier di bidang politik bersama PDI sebelum partai itu pecah dan mendirikan PDI Perjuangan.

Megawati Soekarnoputri.Megawati Soekarnoputri. Foto: Megawati Soekarnoputri. (Dok PDIP).


Megawati menjadi wapres hingga tahun 2001 setelah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dimakzulkan. Megawati kemudian didampingi oleh Hamzah Haz.

Hamzah Haz yang saat itu dipilih menjadi wapres sebelumnya menjabat sebagai Menko Kesra di era Presiden Gus Dur. Dia hanya menjabat kurang dari dua bulan dan setelah itu mengundurkan diri karena ingin fokus mengurus partai. Hamzah Haz adalah Ketum PPP saat itu.

Hamzah Haz juga pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) selama setahun pada 1998-1999. Dia lalu menjadi capres di Pemilu 2004 berpasangan dengan Agum Gumelar.

Hamzah Haz.Hamzah Haz. Foto: Grandyos Zafna


Wapres selanjutnya adalah JK yang mendampingi SBY. JK lalu digantikan oleh Boediono yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2008-2009.

Boediono juga pernah menjadi Menko Perekonomian pada 2005-2008 di era Presiden SBY. Pada era Presiden Megawati, dia menjadi Menteri Keuangan pada 2001-2004.

Boediono. Foto: Hasan Alhabshy


Sejumlah Wapres RI memang tercatat punya latar belakang di bidang ekonomi. Akankah wapres baru nantinya juga berlatar belakang ahli ekonomi?


(bag/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed