DetikNews
Senin 16 April 2018, 15:33 WIB

Ketum PPP: Isu Utang Jadi Propaganda di Tahun Politik

Niken Widya Yunita - detikNews
Ketum PPP: Isu Utang Jadi Propaganda di Tahun Politik Ketua Umum PPP Rommahurmuziy (Foto: Dok. PPP)
Jakarta - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mendapat sorotan dari lawan politiknya lewat isu utang yang terus bertambah. Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) membela Jokowi dan mengatakan utang dijadikan propaganda politik.

Menurut Rommy, bagi orang yang mengetahui ilmu ekonomi yang baik, tidak ada masalah dengan jumlah utang yang saat ini dimiliki pemerintah.

"Isu utang merupakan bagian dari propaganda di tahun politik. Di tahun politik ini, segala kebijakan pemerintah dipersoalkan," ujar Rommy dalam keterangan tertulis, Senin (16/4/2018).

Rommy menyebutkan tidak ada satu negara pun di dunia ini yang tidak berutang. Bahkan Amerika Serikat menjadi raksasa ekonomi dunia di bawah utang yang telah berjalan lebih dari 200 tahun. Utang, menurutnya, bukanlah hal yang dilarang selama untuk kegiatan yang produktif dan dikelola dengan baik.

"Dalam UU No 13/2003 tentang Keuangan Negara, utang pemerintah dibatasi maksimal 60% terhadap PDB. Saat ini total utang pemerintah per Februari 2018 berjumlah Rp 4.034 triliun atau 29,2% terhadap PDB. Untuk perbandingan, rasio utang Jepang bahkan 230% terhadap PDB. Karena jauh di bawah batas maksimum, perdebatan soal utang RI tidak perlu dibuat gaduh," jelas Rommy.



Apalagi di pemerintahan Jokowi, menurut Rommy, utang digunakan on the track untuk pembangunan ekonomi. Hal ini terlihat dari kenaikan belanja infrastruktur dari Rp 290 triliun pada 2015 menjadi Rp 410 triliun pada 2018. Pembangunan infrastruktur yang masif, disebutnya, menaikkan daya saing Indonesia.

"Berdasarkan Indeks Daya Saing Global, Indonesia naik 5 peringkat dari 41 di tahun 2016 menjadi 36 di tahun 2017," tambah Rommy.



Bunga surat utang Indonesia, menurutnya, juga tak bisa disamakan dengan Jepang. Bunga Indonesia mahal karena inflasi lebih tinggi, yakni 3,6%, pada 2017, sedangkan Jepang sempat mengalami deflasi. Angka inflasi menentukan imbal hasil riil yang diterima investor. Makin tinggi inflasi, makin tinggi permintaan bunga dari investor pembeli surat utang.
(nwy/nwy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed