Tentang 'Sedikit Gesekan' Capres PKS

Aditya Mardiastuti - detikNews
Selasa, 10 Apr 2018 20:08 WIB
Kantor PKS (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Kontestasi kandidat capres/cawapres PKS disebut berlangsung panas di kalangan internal partai. Saling sikut demi menarik perhatian Dewan Majelis Syuro PKS diakui benar terjadi.

"Permainan kontestasi diam-diam, pencapresan di PKS keras sekali, sangat keras. Segala cara sudah dipakai. Saya salut dengan Mardani dan Anis Matta yang tampil terbuka. Juga Ahmad Heryawan yang mulai keliling sosialisasi. Kalau tampil dan terbuka, maka permainan ini bisa dilihat dan dikontrol banyak orang. Ada fairness. Jangan sampai PKS sudah hancur-hancuran, tapi di ujung tiket pilpres malah dibeli orang lain," kata anggota DPR dari PKS Mahfudz Siddiq kepada wartawan, Senin (9/4/2018).

Mahfudz mengatakan tak semua bakal capres PKS berani muncul ke permukaan. Dia mengakui hanya beberapa tokoh yang berani keluar dari tradisi politik diam alias silent ala PKS.


Mahfudz kemudian menyebutkan sosok Anis Matta dan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera yang berani terbuka menantang Jokowi pada Pilpres 2019. Mahfudz kemudian mengungkapkan kontestasi capres PKS juga diwarnai serangan tajam ke salah satu capres.

"Setahu saya, kalau ada pengurus atau kader yang terlibat sebagai relawan atau tim pemenangan Anis Matta, pasti akan berurusan sanksi. Mulai teguran, peringatan, penggantian, hingga pemecatan. Terlalu banyak contoh kalau saya sebutkan satu per satu," ungkap Mahfudz.


Dia pun mengungkapkan belum ada forum bagi tiap capres untuk adu visi-misi dan strategi. Alih-alih forum pemaparan visi-misi, yang muncul malah isu miring bersih-bersih loyalis Anis Matta.

"Saya juga heran. Itu bukan tradisi organisasi di PKS. Pergantian mendadak dan sepihak, tanpa alasan dan prosedur yang jelas seperti diatur AD/ART. Dalam ingatan saya, sejak awal berdiri partai ini pada 1999, baru pada era kepengurusan sekarang terjadi kasus penggantian pengurus secara dadakan dan pemecatan kader dalam jumlah yang terus bertambah," kritiknya.

Soal panasnya persaingan capres di lingkup internal PKS ini pun dibenarkan oleh Mardani. "Namanya disuruh kerja ya, wajar ya ada gesekan dikit," kata Mardani di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/4).

Meski begitu, dia menyebut persaingan yang terjadi di lingkup internal PKS masih dalam tahap wajar. Menurutnya, sembilan nama kandidat itu masih tetap solid.

"Tapi semuanya tetap taat, kok. Semuanya tetap PKS," ujarnya.


Namun, hal berbeda disampaikan oleh Ketua DPP PKS Al Muzzammil Yusuf. Muzammil, yang juga masuk daftar tersebut, mengatakan persaingan berlangsung sportif.

"Baik-baik saja, tuh. Senyum-senyum saja, nggak ada masalah," kata Muzzammil di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/4).

Justru dengan persaingan ini, masing-masing pihak akan menghormati Majelis Syuro PKS.

"Persaingan positif. Itu bagus. Kalau nggak ada persaingan, malah nggak bagus. Persaingan positif yang saling menghormati, karena kita menghormati institusi tertinggi, yaitu Majelis Syuro PKS," paparnya.

Selain nama Mardani dan Muzzammil, tujuh nama kandidat capres/cawapres PKS lainnya adalah Presiden PKS Sohibul Iman dan eks Presiden PKS Anis Matta.

Kemudian ada pula nama Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, dan Tifatul Sembiring. Kesembilan nama itu disebutkan sebagai hasil pertimbangan Dewan Majelis Syuro PKS. (ams/van)