Forum Keraton Nusantara Minta Sukmawati Amalkan Pancasila

Dadang Hermansyah - detikNews
Kamis, 05 Apr 2018 14:33 WIB
Forum Silaturahmi Keraton Nusantara hadiri Dies Natalis Universitas Galuh Foto: Dadang Hermansyah/detikcom
Ciamis - Raja-raja se-Nusantara yang tergabung di Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) merespons positif Sukmawati Soekarnoputri minta maaf karena puisinya 'Ibu Indonesia' memantik kontroversi. Sukmawati diminta belajar dari kasus ini.

Ketua FSKN Adipati Arief Natadiningrat Sultan Sepuh dari Kesultanan XIV Cirebon menuturkan, Indonesia adalah bangsa yang toleran. Indonesia terbuka menerima semua adat, tradisi dan agama.

Menurutnya, Pancasila mengajarkan setiap orang untuk menghormati sesama. Karena itu dia menyesalkan Sukmawati sampai membuat puisi yang mengandung kontroversi hingga memicu polemik.


"Kita sesalkan kalau ada yang menjelekkan agama, nantinya diragukan pancasilaisnya," ujarnya saat bersama raja-raja lainnya menghadiri Dies Natalis ke-20 Universitas Galuh, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (5/4/2018).

Dikatakan Arief, sebagai umat muslim tentunya memaafkan Sukmawati, seiring atas permintaan maaf yang telah disampaikan oleh Sukmawati kemarin. Soal penegakan hukum, dia menyerahkan sepenuhnya ke Polri.

"Kalau misalnya hukum kenegaraan nanti aparat yang menilai sesuai hukum positif di Indonesia ini. Sebagai umat muslim pasti memaafkan," katanya.

Sementara itu, Ratu Patuanan Tanah Rata Kokoda, putri Raja Al Alam Ugar Pik-pik Sekar Kokas, Rustuty Rumagesan, meminta agar Sukmawati menjaga lisan dan tulisan. Dia tidak ingin hal sama terulang.


"Saya anak Raja Al Alam, ayah saya sebagai penasihat Sukarno. Sebaiknya kalau berbicara jangan keluar dari Pancasila, sehingga tidak menimbulkan polemik. Karena semua kita bersaudara," jelasnya.

Rustuty mengatakan, dia ikut memaafkan Sukmawati. Namun dia mengingatkan, sesama anak bangsa harus menghormati, termasuk soal keyakinan. Jangan sampai menjelekan antara yang satu dengan yang lain.

"Bangsa kita bangsa besar, jangan sampai ada bahasa yang menimbulkan adu domba. Kalau di Papua istilahnya jangan sampai baku bunuh," katanya. (hri/hri)