DetikNews
Senin 02 April 2018, 18:47 WIB

Cerita Korban ADA Tour yang Merasa 'Ditelantarkan' di Malaysia

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Cerita Korban ADA Tour yang Merasa Ditelantarkan di Malaysia Foto: Kanavino/detikcom
Jakarta - Seorang wanita bernama Enung (38) asal Bogor, Jawa Barat mengaku menjadi korban ADA Tour and Travel. Enung mengaku ditelantarkan oleh ADA Tour sampai akhirnya tidak jadi berangkat ke Mekah.

Cerita bermula saat Enung mendaftar umrah lewat ADA Tour pada Oktober 2016. Saat itu, dia membayar lunas biaya umrah sebanyak Rp 54 juta untuk tiga orang. Singkat cerita, waktu keberangkatan yang telah ditentukan pun tiba. Pada 17 April 2017, Enung bersama suami dan anaknya bersiap-siap untuk pergi ke tanah suci.


"Ya kan berangkat itu harus udah lunas dulu, saya lunas Oktober akhir kan itu 2 kali pembayaran pertengahan bulan sama akhir Oktober 2016 untuk jadwal keberangkatkan April 2017. Tanggal 15 harusnya jalan," kata Enung kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Namun sebelum berangkat ke Mekah, Enung transit terlebih dahulu di Malaysia. Alasan dari pihak travel saat itu adalah visa untuk jemaah belum keluar. "Untuk tunggu visa selesai katanya 2 hari itu tanggal 17 (April) berangkat. Ibu-ibu bapak-bapak tunggu di Malaysia kita selesaikan visa dua hari kita tunggu," ucap Enung.


Setelah itu, Enung bersama jemaah lainnya ditempatkan di sebuah hotel di Malaysia. Hari demi hari terus berganti tetapi jadwal keberangkatan masih belum pasti. Enung bersama keluarganya pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah 8 hari tinggal di Malaysia. Dia beralasan waktu cuti suaminya telah habis.

"Saya bilang kalau saya nggak bisa sabar karena habis waktu cuti suami saya, anak saya sudah mau ujian negara," tuturnya.

Sementara itu, 14 orang jemaah lainnya tetap diberangkatkan umrah oleh ADA Tour. Kata Enung, para jemaah itu pun mengeluhkan fasilitas yang didapat tak sesuai dengan yang dijanjikan. "Nggak, setahu saya mereka pulang ongkos masing-masing. Dan tidak sesuai ekspektasi kita, mereka janji berangkat pakai pesawat Etihad tapi dengan yang lain," imbuhnya.

Setelah kejadian tersebut, Enung mengatakan biaya umrah yang telah dibayarkan, belum juga dikembalikan oleh ADA Tour. Travel itu sempat mengagendakan kembali untuk pergi umrah namun Enung menolaknya. "Belum (uang). Pas dia selesai umrah itu dia nggak ada niat, bu gimana? Saya mau balikin uang. Nggak juga. Yah nawarin schedule ulang. Tapi saya nggak jawab. Dia minta email tapi saya nggak jawab," tuturnya.


Terakhir, dia berharap pemilik ADA Tour, Lasty Annisa segera ditahan oleh polisi. Menurutnya, Lasty harus mendapat ganjaran setimpal dengan perjuangannya selama ini. "Untuk mengganti fisik kita, tenaga kita, waktu kita, dia harus tanggungjawab semua itu. Saya pengen dia benar-benar masuk penjara," tegasnya.

Sementara korban lain, Tri Suryaningsih mengaku tak jadi berangkat ke tanah suci gara-gara dibatalkan oleh ADA Tour secara sepihak. Tri menyebut alasan Lasty membatalkan kepergiannya dengan alasan yang tidak masuk akal. "Dengan alasan saya waktu itu bergabung dengan pengacara Lyra Virna, Kalina. Kita diundang korbannya Lasty yang memang merasa ini," kata Tri.

Tri menyebut dirinya dituduh ingin menjatuhkan nama baik pemilik ADA Tour, Lasty Annisa. Padahal, dia hanya ingin meminta kejelasan soal jadwal keberangkatan umrah. "Jadi dia malah menuduh saya, ingin menjatuhkan nama baik dia. Padahal saya korban. Saya pengen tahu gimana nasib saya dan anak saya untuk berangkat umrah. Saya sudah nyiapin tiga. Anak saya dua," ujar dia.


Sebelum dibatalkan, Tri mengaku keberangkatan umrahnya ditunda selama lima kali. Alasannya adalah visa yang disiapkan oleh ADA Tour belum keluar. "Saya ditunda-tunda dengan alasan Visa belum keluar. Pertama, 3 Mei, 8 Mei, 17 Mei, 26 Mei, terakhir 1 Mei. Lima kali kurang lebihnya. Sampai anak saya sekolah berantakan, kuliahnya. Karena mnunggu waktu kan, kapan berangkat? Alasan visa keluar. Padahal visa keluar kalau tiket pulang pergi untuk jemaah itu sudah ada," tuturnya.

Dia membayar biaya umrah sebesar Rp 48.350.000 untuk tiga orang. Namun uang tersebut baru dikembalikan sebesar Rp 20 juta. "Belum semua. Dia baru transfer Rp 20 juta. Tapi kan laporannya tetap berjalan. Saya bingung mencoba mendekati saya supaya saya nggak mau laporan," imbuh dia.




(knv/mei)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed