KPK Sebut Fakta dari OTT, Dinasti Politik Lekat dengan Korupsi

Zunita Amalia Putri - detikNews
Jumat, 02 Mar 2018 12:47 WIB
Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Dinasti politik kembali menjadi sorotan KPK setelah membongkar transaksi suap Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra. Rupanya, Adriatma mendapatkan suap untuk ayahnya, Asrun, yang merupakan mantan Wali Kota Kendari.


Duit suap itu disebut KPK digunakan Asrun untuk kepentingan kampanye dalam pilkada serentak 2018. Asrun memang akan berkompetisi dalam pilkada serentak 2018 sebagai calon Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra).


Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengatakan dinasti politik lekat dengan rasuah. Ucapan Basaria itu berdasar dari fakta-fakta operasi tangkap tangan (OTT) yang selama ini dilakukan KPK.


"Selalu kita katakan bahwa dinasti politik itu menjadi perhatian dari KPK. Saat ini kita tidak melarang itu sepanjang semua berjalan akuntabel dan transparan," ucap Basaria di Mapolres Jakarta Selatan, Jumat (2/3/2018).


"Tapi faktanya penangkapan yang dilakukan KPK itu selalu ada beberapa yang saya katakan tadi, bapak, ibu, anak, dan seterusnya. Nah harapan kita kalau pun (dinasti politik) ini terjadi, ya jangan melakukan korupsi. Itu aja intinya," imbuh Basaria.

Dinasti politik yang dibongkar KPK yaitu pucuk pemerintahan Kota Kendari yang berlanjut dari ayah ke anak, Asrun ke Adriatma. Asrun menduduki posisi Wali Kota Kendari dari 2007 hingga 2017. Sepuluh tahun bertahta, jabatan itu kemudian ditempati Adriatma.


Namun kemudian KPK menyebut Asrun masih dapat memerintah meski tak lagi mengemban amanah sebagai wali kota. Asrun disebut KPK ingin agar Adriatma meminta suap ke pengusaha yang kerap mendapatkan proyek di Kendari bernama Hasmun Hamzah.



Komunikasi yang terjadi dengan Hasmun dilakukan oleh Fatmawati Faqih, mantan Kepala BKSAD Kendari yang juga disebut sebagai orang kepercayaan Asrun. Hasmun pun menyediakan uang Rp 2,8 miliar untuk Adriatma, yang kemudian uang itu dipakai Asrun untuk kepentingan kampanye. Keempatnya pun kini telah ditetapkan KPK sebagai tersangka. (dhn/imk)