DetikNews
Jumat 23 Februari 2018, 04:33 WIB

PKB: PPP Harus Ungkap Penyerang Ulama yang Diduga Terkait Pilpres

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
PKB: PPP Harus Ungkap Penyerang Ulama yang Diduga Terkait Pilpres Wasekjen PKB Daniel Johan (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) mengungkap pelaku penyerang ulama yang disebut-sebut eks orang kuat dan terkait Pilpres 2019. Wasekjen PKB Daniel Johan menyebut pengungkapan nama pelaku akan membantu proses penegakan hukum.

"Langsung ungkap dong kalau memang tahu, biar aparat segera menindak. Kalau nggak diungkap, kan sama saja mau melindungi pelaku, sekaligus membiarkan ulama menjadi korban," ujar Daniel kepada wartawan, Kamis (22/2/2018).

Menurut Daniel, ulama, termasuk para pemuka agama lain, ialah panutan masyarakat. Dia mengatakan ulama mesti mendapat jaminan rasa aman dalam menyampaikan dakwah.

"Kalau tidak diungkap secara jelas, malah akan semakin menimbulkan kecurigaan di antara kekuatan politik dan masyarakat. Dan itu yang harus dihindari sehingga adu domba dan menebar rasa takut antarmasyarakat yang umumnya menjadi tujuan dari teror ini, agar tidak terjadi," ucap Daniel.


Pernyataan Rommy disampaikannya berdasarkan analisis tim pencari fakta yang diterjunkan PPP yang telah mengumpulkan informasi dari sejumlah lokasi penyerangan pemuka agama. Tim itu juga sudah menyampaikan laporan ke DPP PPP.

Temuan-temuan yang sudah dilaporkan lalu dianalisis oleh PPP. Hasil analisis awal, PPP mengidentifikasi ada kelompok yang memiliki kemampuan melakukan tindakan sistematis dan terencana terkait penyerangan terhadap para pemuka agama. Hasilnya, mengarah ke dua pihak: penguasa dan pihak di luarnya.

Identifikasi bahwa ada kelompok berkuasa atau yang pernah berkuasa terkait penyerangan terhadap ulama lalu dianalisis lagi. Analisis didasarkan pada siapa untung dan siapa rugi. Dilanjutkan Rommy, penyerangan terhadap ustaz-ustaz kampung di masa lalu, pertama bertujuan memberikan pesan kepada masyarakat sipil agar tidak mencoba-coba menurunkan Soeharto. Tujuan kedua adalah membangun persepsi publik bahwa negara dalam kondisi tidak aman, sehingga harus dipimpin oleh Soeharto, yang memiliki latar belakang militer.

"Artinya, siapa mereka? Mereka adalah yang pernah menjadi orang kuat di republik ini, siapanya tentu polisi, aparat intelijen harus menggali lebih jauh fakta dan apa di balik fakta," sebut Rommy.

(gbr/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed