KLB Difteri, Menkes: Saya Minta Jangan Timbul Lagi Vaksin Palsu

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Senin, 11 Des 2017 12:30 WIB
Menkes Nila Moeloek bicara soal KLB difteri Foto: Bil Wahid/detikcom
Jakarta - Penyakit difteri menjadi kejadian luar biasa (KLB) di beberapa daerah di Indonesia. Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta masyarakat tak memproduksi vaksin palsu di tengah upaya imunisasi yang dilakukan Kemenkes.

"Saya minta betul jangan lagi timbul vaksin palsu dalam hal ini. Ini juga peluang untuk orang yang terlalu kreatif, saya kira ini tidak baik," kata Nila di SMA Negeri 33 Jakarta, Jalan Kamal Muara, Jakarta Barat, Senin (11/12/2017).

Nila meminta vaksin yang digunakan untuk imunisasi difteri adalah vaksin yang memang dibenarkan oleh Kemenkes. Meski begitu, masyarakat juga bisa menggunakan vaksin impor.


"Tolong memakai vaksin yang betul-betul berasal dari yang kami punya, bisa dari impor tapi tentu bagi yang mampu," imbuhnya.

Nila berharap kasus difteri ini bisa segera hilang. Karena itu, dia menekankan agar masyarakat melakukan imunisasi di tempat-tempat terdekat seperti puskesmas dan rumah sakit.

"Dulu pernah kita bisa menguasai difteri tahun 1990. Timbul lagi KLB ini di tahun 2009, kita kuasai 2013 sudah tidak ada lagi. Tapi kelihatan sekarang terjadi lagi. Kalau kita lihat, ini berarti anak-anak yang terkena adalah anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi dan ini dibenarkan pada waktu kita melakukan surveillance atau penelitian," jelasnya.

Nila menyebut, hingga November 2017 sudah ada 561 kasus difteri di 20 provinsi di Indonesia. Sebanyak 32 kasus berakhir dengan kematian.

Menurut Nila, difteri kembali mewabah karena anak-anak tidak diberi imunisasi atau imunisasi, namun tidak lengkap. Karena itu, dia mengingatkan lagi bahwa pemberian vaksin difteri ini sangat penting.

"Kami mempunyai program untuk membeli vaksin dan diberikan kepada masyarakat. Ini gratis. Imunisasi dasar ini gratis kalau pergi ke puskesmas dan rumah sakit yang memberikan vaksin yang berasal dari progam Kemenkes," jelasnya.

(hri/fdn)